Samarinda, Kaltimetam.id — Kehadiran Teras Samarinda sebagai wajah baru ruang publik di Kota Tepian tak serta-merta menghadirkan keuntungan secara instan. Di balik meningkatnya antusiasme masyarakat, kawasan ini sempat mencatatkan kerugian pada fase awal operasional, sebuah kondisi yang diakui sebagai konsekuensi dari model pengelolaan ruang publik yang tidak semata berorientasi bisnis.
Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Varia Niaga selaku pengelola menilai, Teras Samarinda membutuhkan masa adaptasi sebelum mampu memberi kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Direktur Utama Perumda Varia Niaga, Syamsuddin Hamade, menyebut keterbatasan kewenangan di awal pengelolaan membuat potensi ekonomi kawasan belum dapat dimaksimalkan.
Pada periode awal sejak akhir 2024, aktivitas usaha di Teras Samarinda belum berjalan optimal. Sumber pendapatan hanya bertumpu pada sektor perparkiran, sementara tingkat kunjungan masyarakat masih relatif rendah. Situasi tersebut berdampak langsung pada kondisi keuangan pengelola.
“Kami belum bisa menjalankan fungsi bisnis secara penuh di awal. Pendapatan hanya dari parkir dan pengunjung juga belum ramai, sehingga wajar kalau masih merugi,” ujar Syamsuddin, Sabtu (7/2/2026).
Perubahan mulai terlihat sejak Agustus 2025. Optimalisasi pengelolaan kawasan dilakukan secara bertahap, salah satunya dengan menghadirkan Teluk Lerong Space (TLS) yang memanfaatkan lahan eks SPBU.
Kehadiran TLS dinilai menjadi pemantik meningkatnya arus kunjungan dan memperluas aktivitas ekonomi di kawasan Teras Samarinda.
Meski sejumlah sumber pendapatan mulai terbentuk, Syamsuddin menegaskan bahwa sepanjang 2025, hasil pengelolaan kawasan masih diprioritaskan untuk menutup biaya operasional dan menyeimbangkan kerugian di fase awal.
Kontribusi langsung ke PAD baru berasal dari sektor parkir dengan porsi sekitar 10 persen.
“Untuk keseluruhan Teras, pendapatan yang ada masih kami gunakan untuk menutup kerugian awal. Yang langsung masuk PAD baru dari parkir,” jelasnya.
Ia menambahkan, Teras Samarinda memiliki karakter berbeda dengan unit usaha BUMD lain yang cenderung berorientasi laba sejak awal.
Sebagai ruang publik, kunci keberhasilan Teras terletak pada konsistensi arus pengunjung sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi.
“Teras ini bukan sekadar tempat usaha, tapi ruang publik. Traffic itu modal utama. Kalau pengunjung tidak terbangun, bisnis di dalamnya juga tidak akan hidup,” tegas Syamsuddin.
Untuk memperkuat daya tarik kawasan sekaligus menopang keberlanjutan ekonomi, Varia Niaga menyiapkan sejumlah inovasi pada tahun 2026.
Beberapa fasilitas modern direncanakan hadir, mulai dari wahana jet ski ramah keluarga, pemanfaatan teknologi robotik untuk kebersihan kawasan, hingga atraksi drone sebagai hiburan publik.
Selain itu, penataan sektor kuliner juga menjadi perhatian melalui konsep food truck di kawasan TLS.
Pengelola menegaskan adanya proses kurasi ketat bagi pelaku usaha, terutama terkait kualitas produk dan standar kebersihan.
“Kami ingin Teras Samarinda berkembang sebagai ruang publik yang nyaman, modern, dan tetap memberi nilai ekonomi jangka panjang bagi daerah,” tutupnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







