Tarif Parkir Progresif Diterapkan di Pasar Pagi, Dishub Fokus Alihkan Warga ke Transportasi Umum

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menegaskan bahwa penerapan tarif parkir progresif di kawasan Pasar Pagi bukan sekadar upaya menambah pendapatan daerah.

Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi menekan tingginya penggunaan kendaraan pribadi yang dinilai menjadi penyumbang utama kemacetan.

Penarikan tarif parkir progresif mulai berlangsung sejak Rabu (7/1/2026). Hingga tengah hari, pendapatan sudah tembus sekitar Rp600.000. Meski demikian, Hotmarulitua menegaskan bahwa angka tersebut bukan prioritas Dishub.

“Kemarin tengah hari saja sudah dapat Rp600.000. Ini belum maksimal. Tapi memang bukan itu fokus kita,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, seberapa pun jalan diperlebar, kemacetan tetap akan terjadi jika masyarakat tidak beralih ke transportasi massal.

Karena itu Dishub bersama Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mendorong percepatan pengadaan angkutan umum perkotaan.

“Solusi kemacetan itu hadirnya transportasi publik, bukan menambah kendaraan pribadi,” tegasnya.

Untuk menggambarkan efektivitas transportasi umum, Hotmarulitua menjelaskan perbandingan penggunaan ruang jalan antara bus dan sepeda motor. Sebuah bus kecil atau medium dapat mengangkut 40 penumpang.

Jika 40 orang tersebut menggunakan sepeda motor, total ruang jalan yang terpakai mencapai sekitar 60 meter persegi, berdasarkan estimasi 1,5 meter persegi untuk satu motor.

Sementara satu unit bus hanya membutuhkan sekitar 22,5 meter persegi. Artinya, ada penghematan ruang jalan sekitar 38,5 meter persegi hanya dari satu perjalanan.

Perbandingan itu menunjukkan betapa besarnya dampak pengurangan kendaraan pribadi terhadap kelancaran lalu lintas. Semakin banyak warga beralih ke angkutan umum, semakin besar ruang jalan yang bisa “dikembalikan” untuk mengalirkan mobilitas kota.

Hotmarulitua juga menyoroti dampak sosial yang ikut teratasi melalui pergeseran ke transportasi umum.

Berkurangnya pengguna motor akan menekan praktik parkir liar serta meminimalkan ruang bagi juru parkir ilegal.

“Kalau orang mulai jarang pakai motor, perilaku parkir sembarangan pasti ikut berkurang. Jukir liar juga begitu,” tuturnya singkat.

Selain aspek teknis dan ketertiban, ia menilai transportasi umum dapat memperkuat interaksi sosial warga.

“Di dalam bus, mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Itu baik untuk kehidupan sosial,” tuturnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version