Sisir Gatsu Hingga Bengkuring, Komisi III DPRD Samarinda Temukan Sejumlah Titik Kritis Pengendali Banjir

Sidak Komisi III DPRD Kota Samarinda di sejumlah proyek pengendalian banjir, Rabu (4/3/2026). (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Komisi III DPRD Kota Samarinda melakukan inspeksi lapangan terhadap sejumlah proyek pengendalian banjir, Rabu (4/3/2026). Peninjauan dimulai dari Jalan Gatot Subroto (Gatsu), berlanjut ke kolam retensi Sempaja Lestari Indah (SLI), hingga kawasan Bengkuring.

Fokusnya bukan hanya melihat progres fisik, tetapi memastikan seluruh sistem drainase, kolam retensi, dan tanggul benar-benar saling terhubung.

Di kawasan Gatsu, DPRD menindaklanjuti laporan warga terkait saluran drainase yang menyempit dan tersumbat, terutama di sekitar Gang Masjid dan Kelurahan Bandara.

Dari pantauan lapangan, ditemukan adanya perubahan dimensi saluran yang sebelumnya berfungsi seperti anak sungai kecil.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan laporan masyarakat menjadi dasar sidak tersebut.

“Kami menerima laporan drainase di Gang Masjid dan Kelurahan Bandara yang buntu dan mengecil. Posisinya di depan bangunan baru yang belum kami pastikan peruntukannya,” tutur Deni.

Ia menegaskan, penyempitan saluran tidak boleh dibiarkan karena berpotensi menghambat aliran air menuju Sungai Karang Mumus, apalagi kawasan tersebut termasuk jalur buangan utama saat hujan deras.

“Saluran itu semacam anak sungai kecil, tapi sekarang terlihat mengecil,” ujarnya.

Di kawasan Gatsu sendiri, Pemkot telah merencanakan pembangunan drainase sepanjang kurang lebih tiga kilometer di sisi kanan dan kiri jalan dengan anggaran di atas Rp50 miliar.

DPRD meminta anggaran tersebut benar-benar difokuskan untuk memperlancar aliran air hingga ke sungai.

“Drainase di Gatsu akan dibangun sekitar tiga kilometer dengan anggaran di atas Rp50 miliar. Harus dipastikan alirannya langsung ke Sungai Karang Mumus,” terang Deni

DPRD juga mengingatkan agar jalur drainase tidak tertutup bangunan, karena hal itu berpotensi menimbulkan “bottle neck” atau titik penyempitan aliran.

“Kalau itu wilayah drainase, harus dipastikan bersih. Jangan sampai ada bangunan yang menghambat aliran ke sungai,” tegasnya.

Dari Gatsu, sidak berlanjut ke kolam retensi di kawasan Sempaja Lestari Indah (SLI) dengan luas sekitar 2,6 hektare. Secara konstruksi, kolam dan pintu air telah selesai dibangun.

Namun, masih ada pekerjaan penyambungan drainase menuju Gang Ahim agar sistem benar-benar terintegrasi.

“Kolam retensi SLI sudah selesai, tinggal menyambungkan drainase ke Gang Ahim,” kata Deni.

Menurutnya, kawasan simpang Sempaja menjadi titik temu beberapa aliran air dari PM Noor, AWS, dan Wahid Hasyim.

Jika kapasitas saluran di titik itu tidak memadai, genangan tetap berpotensi terjadi meski kolam retensi sudah tersedia.

“Di Gang Ahim itu ada bottle neck. Kalau daya tampungnya tidak sesuai, air akan kembali dan jadi genangan,”

DPRD meminta blueprint sistem drainase secara menyeluruh agar pembangunan kolam retensi tidak berdiri sendiri tanpa koneksi yang jelas.

“Kita ingin drainase itu terhubung semua. Jangan sampai kolam retensi dibangun tapi tidak terkoneksi.”

Peninjauan terakhir dilakukan di Bengkuring, termasuk melihat tanggul yang dibangun Balai Wilayah Sungai (BWS).

DPRD mencatat masih ada sekitar dua kilometer tanggul yang belum tersambung hingga Betapus, sehingga limpasan air masih berpotensi masuk ke perumahan.

“Masih ada sekitar dua kilometer tanggul yang belum tersambung sampai Betapus. Itu akan kami komunikasikan ke BWS,” jelasnya.

Selain itu, kolam retensi Bengkuring seluas kurang lebih 5 hektare yang selesai dibangun pada 2025 juga ikut diperiksa.

DPRD meminta agar area tanggul dan kolam rutin dibersihkan dari gulma agar kapasitas tampung tidak berkurang.

“Kita minta gulma dibersihkan karena itu mengurangi kapasitas tampung.”

Lebih lanjut, Deni menegaskan, seluruh proyek drainase, kolam retensi, dan tanggul harus benar-benar sesuai peruntukan dan terintegrasi.

Tanpa konektivitas yang baik, pembangunan fisik dinilai tidak akan efektif mengurangi banjir di Kota Samarinda.

“Tujuannya jelas, untuk mengurangi banjir di Kota Samarinda. Itu yang paling penting,” tandasnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id