Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Resmi Beroperasi, Ratusan Siswa Mulai Jalani MPLS di Gedung Baru

Sekretaris Daerah Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti menghadari kegiatan MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Suasana berbeda tampak di kawasan Jalan Stadion Palaran, Jumat (31/7/2026). Ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan mulai memenuhi lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda untuk mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), menandai dimulainya aktivitas pendidikan di kompleks baru yang dibangun sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang.

Bagi para siswa, hari pertama bukan sekadar mengenal ruang kelas, guru, maupun teman baru. Perpindahan ke gedung yang lebih representatif juga menjadi awal proses adaptasi terhadap lingkungan belajar yang dirancang lebih nyaman, sekaligus mendukung pembentukan karakter peserta didik.

Pemerintah Kota Samarinda memastikan seluruh fasilitas utama sekolah telah siap digunakan. Meski demikian, sejumlah penyempurnaan masih akan dilakukan agar aktivitas belajar mengajar berlangsung aman dan nyaman sejak hari pertama operasional.

Sekretaris Daerah Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti turun langsung meninjau kawasan sekolah untuk memastikan kesiapan bangunan yang pembangunannya diselesaikan dalam waktu relatif singkat, sekitar lima bulan. Menurutnya, secara keseluruhan proses pembangunan telah rampung dan memenuhi kebutuhan dasar penyelenggaraan pendidikan. Namun, masih terdapat beberapa detail teknis yang perlu segera diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan siswa.

“Secara umum sudah siap digunakan, tetapi masih ada beberapa hal kecil yang perlu diperhatikan, terutama soal keamanan anak. Misalnya di tangga dan beberapa bagian lantai dua yang masih perlu pengaman tambahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, aspek keselamatan menjadi perhatian utama mengingat siswa akan beraktivitas setiap hari di lingkungan sekolah. Karena itu, sejumlah titik dinilai perlu dilengkapi dengan pengaman tambahan maupun penanda visual agar potensi kecelakaan dapat diminimalkan.

Neneng mencontohkan bagian bawah tangga serta beberapa sudut bangunan sebaiknya diberi garis berwarna kontras sehingga mudah dikenali siswa. Langkah sederhana tersebut dinilai mampu mengurangi risiko benturan, terutama bagi anak-anak yang aktif bergerak selama berada di lingkungan sekolah.

Selain memastikan kesiapan bangunan, Pemerintah Kota Samarinda juga mulai menyiapkan sistem pendukung operasional sekolah. Salah satunya adalah pengelolaan sampah dan air limbah yang akan dikoordinasikan bersama pemerintah provinsi dan kementerian terkait.

Menurut Neneng, keberadaan gedung baru harus diikuti dengan sistem pengelolaan yang baik agar operasional sekolah dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Setelah sekolah ini beroperasi tentu akan ada kebutuhan pengelolaan sampah dan limbah. Itu nanti akan kita bahas bersama antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, dan kementerian agar ada kesepakatan mengenai pengelolaannya,” katanya.

Lebih jauh, ia menilai MPLS di Sekolah Rakyat memiliki makna yang lebih luas dibanding kegiatan pengenalan sekolah pada umumnya. Program tersebut juga menjadi bagian dari proses pembinaan karakter bagi siswa yang berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan yang beragam.

Proses adaptasi dinilai menjadi faktor penting agar seluruh peserta didik mampu membangun rasa percaya diri, menjalin hubungan dengan teman sebaya, serta memahami budaya belajar yang akan diterapkan di lingkungan sekolah.

“Anak-anak ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Jadi MPLS bukan hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan. Apalagi sekarang mereka harus beradaptasi lagi dengan lingkungan yang baru,” tutur Neneng.

Ia juga memberikan apresiasi kepada tenaga pendidik yang selama ini mendampingi peserta didik sejak program Sekolah Rakyat mulai berjalan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik, tetapi juga oleh kualitas pembinaan yang diberikan kepada anak-anak.

Saat ini Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda menampung siswa dari tiga jenjang pendidikan. Tercatat terdapat 188 siswa tingkat SD, 163 siswa SMP, dan 182 siswa SMA yang akan menjalani kegiatan belajar di kompleks tersebut secara bertahap.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Samarinda Mochammad Arif Surochman mengatakan Dinas Sosial berperan dalam proses penjaringan hingga pendampingan siswa, termasuk melibatkan orang tua sejak awal pelaksanaan program. Menurutnya, hari pertama MPLS difokuskan pada pengenalan lingkungan sekolah, sedangkan rangkaian kegiatan berikutnya akan diisi dengan pemeriksaan kesehatan bagi siswa baru sebagai bagian dari persiapan mengikuti proses belajar mengajar.

“Hari ini kita mulai dengan pengenalan. Besok direncanakan ada pemeriksaan kesehatan untuk siswa baru,” katanya.

Arif menjelaskan, pada tahun ajaran 2026/2027 terdapat sekitar 270 siswa baru yang diterima. Mayoritas berasal dari Kota Samarinda, sementara sebagian lainnya datang dari Balikpapan, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, hingga Kabupaten Paser.

Ia menegaskan, Sekolah Rakyat tetap membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari kelompok rentan, termasuk mereka yang sebelumnya sulit memperoleh layanan pendidikan yang layak. Karena itu, keberhasilan program ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya Dinas Sosial, tetapi juga sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar agar anak-anak dapat terus bersekolah dan menyelesaikan pendidikannya,” tutupnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version