Revitalisasi Pasar Pagi Dipersoalkan, Akademisi Singgung Dugaan Lemahnya Perencanaan PUPR

Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) sekaligus pengamat ekonomi Kalimantan Timur, Purwadi Purwaharsojo. (Foto: Istemewa)

Samarinda, Kaltimetam.id – Proyek revitalisasi Pasar Pagi Samarinda dengan nilai anggaran sekitar Rp468,5 miliar kembali menjadi sorotan.

Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) sekaligus pengamat ekonomi Kalimantan Timur, Purwadi Purwaharsojo, menilai proyek tersebut masih menyisakan sejumlah persoalan mendasar, mulai dari perencanaan teknis hingga efektivitas pemanfaatan bangunan sebagai pusat ekonomi rakyat. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari tampilan fisik bangunan yang modern, tetapi harus dilihat dari fungsi, kenyamanan, serta keberlanjutan aktivitas ekonomi di dalamnya.

“Jangan hanya lihat dari luar, tapi harus dilihat fungsinya berjalan atau tidak,” ujarnya.

Purwadi menyoroti munculnya keluhan pedagang terkait tempias air hujan di sejumlah titik bangunan Pasar Pagi. Menurutnya, hal tersebut menjadi indikasi adanya kelemahan dalam tahap perencanaan dan desain teknis yang seharusnya sudah mengantisipasi kondisi lingkungan.

“Kalau bangunan baru masih ada masalah seperti itu, berarti ada yang kurang dalam perencanaannya,” tegasnya.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sinyal awal bahwa evaluasi menyeluruh terhadap proyek perlu dilakukan, khususnya dari aspek teknis konstruksi.

Kritik tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah proyek infrastruktur lain di Samarinda, seperti Teras Samarinda, proyek terowongan kota, hingga beberapa ruas jalan yang dinilai masih memiliki catatan perbaikan.

Menurutnya, pola yang muncul menunjukkan perlunya evaluasi sistem perencanaan pembangunan daerah secara lebih luas.

“Ini bukan hanya satu proyek. Ada pola yang harus diperbaiki dalam perencanaan infrastruktur,” katanya.

Salah satu sorotan utama adalah ketidakseimbangan antara kapasitas fasilitas dan jumlah aktivitas ekonomi di Pasar Pagi. Purwadi menilai fasilitas parkir dan penunjang lainnya belum sepenuhnya mampu mengakomodasi ribuan pedagang dan pengunjung.

“Pedagangnya ribuan, tapi fasilitas pendukungnya terbatas. Ini bisa jadi masalah operasional,” ujarnya.

Ia juga menilai pendekatan pembangunan masih terlalu berfokus pada estetika bangunan, sementara aspek fungsi dan kenyamanan pengguna belum menjadi prioritas utama.

Menurutnya, pasar modern seharusnya dirancang untuk menjamin kelancaran arus barang, kenyamanan pengunjung, dan keselamatan aktivitas ekonomi.

“Bangunan bukan hanya soal tampilan, tapi soal bagaimana orang bisa beraktivitas dengan nyaman,” katanya.

Purwadi turut menyoroti masih adanya sejumlah kios kosong di Pasar Pagi meskipun proses relokasi pedagang telah dilakukan.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat aset daerah tidak termanfaatkan secara optimal jika tidak segera ditangani secara serius.

“Kalau dibiarkan, ini bisa jadi aset mangkrak. Ini uang APBD,” ucapnya.

Ia mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek-proyek infrastruktur di Samarinda, khususnya Pasar Pagi, serta meminta Dinas PUPR memberikan penjelasan terbuka kepada publik.

“Harus ada transparansi dan evaluasi. Ini uang rakyat,” tegasnya.

Terakhir, Purwadi menegaskan bahwa proyek infrastruktur publik harus diukur dari manfaat nyata, bukan sekadar nilai investasi atau kemegahan bangunan.

“Kalau tidak efektif, nanti jadi beban. Harus benar-benar bermanfaat untuk masyarakat,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id