Perbaikan Berulang di Jalur Palaran Tuai Kritik, Warga Minta Solusi Permanen untuk Keselamatan Pengendara

Kondisi jalan berluban di jalur Palaran kembali dilakukan penambalan. (Foto: Istimewa)

Samarinda, Kaltimetam.id – Kondisi jalan berlubang di jalur utama Palaran, Kota Samarinda, kembali menjadi sorotan setelah dua pengendara dilaporkan terjatuh akibat kerusakan permukaan aspal. Menyikapi insiden tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Timur kembali melakukan penambalan di sejumlah titik yang dinilai membahayakan.

Penanganan dilakukan dengan menutup lubang menggunakan campuran semen dan koral. Langkah ini disebut sebagai bagian dari pemeliharaan rutin untuk mencegah kerusakan meluas sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan.

Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan UPTD Pemeliharaan Infrastruktur Wilayah II Dinas PUPR-Pera Kaltim, Taufiqurridha Ismail, mengakui bahwa jalur Palaran termasuk ruas yang cukup sering mengalami kerusakan.

“Jalan di jalur Palaran itu memang sudah beberapa kali dilakukan pemeliharaan, baik skala kecil maupun besar. Kami terus melakukan monitoring dan penanganan ketika ditemukan kerusakan,” ujarnya.

Menurut Taufiqurridha, tingginya intensitas kendaraan yang melintas, terutama truk bertonase besar, menjadi salah satu faktor yang mempercepat degradasi permukaan jalan. Terlebih saat musim hujan, air yang menggenang dapat memperlemah struktur aspal dan mempercepat terbentuknya lubang.

Meski perbaikan telah dilakukan, sebagian warga menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara. Mereka khawatir lubang yang telah ditambal akan kembali terkelupas dalam waktu singkat.

Rudi Susanto (44), warga Jembatan Kuning, Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, mengaku sudah berkali-kali melihat perbaikan serupa dilakukan di ruas tersebut.

“Sudah lebih dari lima kali ditambal, tapi tidak lama rusak lagi. Jalur ini bukan hanya dilalui motor dan mobil pribadi, tapi juga kendaraan berat. Bebannya besar sekali,” katanya.

Menurut Rudi, ruas jalan tersebut terakhir kali mendapatkan pemeliharaan pada 2025. Namun, dalam kurun waktu relatif singkat, kerusakan kembali muncul.

“Kalau sudah rusak, biasanya lama baru diperbaiki. Padahal ini jalur utama. Pengendara jadi waswas, apalagi kalau malam atau saat hujan,” keluhnya.

Ia menambahkan, beberapa pengendara terpaksa mengurangi kecepatan secara mendadak atau bermanuver menghindari lubang, yang justru berpotensi menimbulkan kecelakaan baru.

Jalur Palaran dikenal sebagai salah satu akses penting yang menghubungkan kawasan permukiman dengan wilayah industri dan pelabuhan. Arus kendaraan berat yang intens membuat kondisi jalan rentan mengalami kerusakan berulang.

Warga berharap pemerintah provinsi tidak hanya melakukan penanganan darurat, tetapi juga menyusun perencanaan perbaikan permanen yang mampu bertahan lebih lama.

“Kalau memang jalurnya dilalui kendaraan berat terus, harusnya kualitas jalannya juga disesuaikan. Jangan hanya tambal-tambal,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id