Pemkot Samarinda Redam Potensi Gesekan Warga Saat Proyek Jargas Tahap Lanjutan Dimulai

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Pembangunan jaringan gas rumah tangga (jargas) tahap lanjutan di Kota Samarinda tidak hanya difokuskan pada target teknis, tetapi juga pada pengelolaan dampak sosial di lapangan. Pemerintah kota menilai pendekatan ini penting agar proyek infrastruktur berjalan tanpa menimbulkan gangguan kenyamanan masyarakat.

Memasuki tahap kedua setelah kawasan Sambutan dan Samarinda Ilir, proyek jargas kini mulai bergerak dengan aktivitas survei jalur pipa. Seluruh proses administrasi telah dirampungkan, termasuk penetapan pemenang tender, sehingga pekerjaan fisik dapat segera berjalan.

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan tahapan saat ini masih berada pada fase awal, yakni penelusuran lintasan jaringan yang akan menjadi dasar penggalian pipa gas.

“Administrasinya sudah selesai, sekarang masuk tahap survei jalur jaringan,” ujarnya, Senin (29/12/2025).

Dalam pelaksanaannya, pemerintah kota sempat menerima keberatan warga terkait rencana penempatan material proyek. Lokasi penyimpanan pipa yang awalnya direncanakan di kawasan Jalan Nuri akhirnya dipindahkan ke Jalan Perjuangan setelah muncul penolakan dari masyarakat sekitar.

Menurut Marnabas, keputusan memindahkan lokasi tersebut diambil sebagai langkah preventif agar persoalan nonteknis tidak berkembang menjadi hambatan proyek.

“Daripada berpolemik, kita geser saja. Di Jalan Perjuangan ada lahan kosong yang bisa dipinjam,” katanya.

Saat ini, material proyek disimpan dalam kontainer di lokasi yang dinilai lebih aman dan minim potensi konflik.

Pemerintah kota menilai pengaturan logistik yang rapi menjadi kunci kelancaran pekerjaan jargas di tengah lingkungan permukiman padat.

Seiring itu, aktivitas lapangan mulai terlihat di beberapa titik. Tim pelaksana melakukan penggalian awal dan penelusuran jalur pipa, termasuk di kawasan sekitar Jalan Biawan yang diproyeksikan menjadi salah satu lintasan utama jaringan gas.

Marnabas mengakui, dalam proyek infrastruktur berskala besar, reaksi masyarakat terhadap aktivitas proyek merupakan hal yang lazim. Namun, sebagian besar persoalan yang muncul bersifat teknis ringan.

“Biasanya hanya soal barang disimpan di mana. Itu saja,” ujarnya.

Pada tahap kedua ini, jaringan gas ditargetkan melayani sekitar 7.600 pelanggan. Meski demikian, sambungan gas langsung ke rumah warga belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Seluruh pipa utama harus terpasang dan melewati tahapan uji keamanan sebelum dinyatakan siap digunakan.

“Gas itu berbeda. Semua pipa utama harus terpasang, diuji kebocorannya, baru bisa ditutup dan disambungkan ke rumah,” jelasnya.

Proyek jargas tahap lanjutan ditargetkan rampung dalam waktu delapan bulan sesuai kontrak kerja. Jika berjalan sesuai rencana dan tanpa kendala berarti, sambungan gas ke rumah warga diproyeksikan mulai direalisasikan pada Juli 2026.

Untuk mengawal pelaksanaan proyek, Pemkot Samarinda membentuk tim pengawasan yang melibatkan unsur teknis serta perwakilan masyarakat. Tim ini bertugas memastikan pekerjaan berjalan sesuai standar sekaligus menjadi penghubung jika muncul persoalan di lapangan.

“Kita tidak biarkan pelaksana bekerja sendiri. Kalau ada kendala, kita bantu carikan solusi,” kata Marnabas.

Pengawasan tidak berhenti pada tahap pembangunan. Pemerintah kota juga menyiapkan mekanisme pengaduan pascapenggunaan, termasuk pengelolaan layanan dan pembayaran bulanan. Pembayaran jargas diarahkan melalui Bank Samarinda agar lebih tertib dan terpantau.

Selain itu, operator jargas diwajibkan memiliki kantor perwakilan atau sekretariat di Samarinda guna memudahkan masyarakat memperoleh informasi dan menyampaikan keluhan layanan.

“Harus ada sekretariatnya, supaya masyarakat tahu ke mana harus bertanya,” tandasnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version