Samarinda, Kaltimetam.id – Aktivitas lalu lintas di jalur penghubung Jalan Merdeka menuju Jalan Pelita 3, Kecamatan Sambutan, kini kembali berjalan lancar setelah penanganan darurat rampung dilakukan.
Normalisasi akses tersebut menandai berakhirnya fase tanggap cepat, sekaligus menjadi awal fokus baru pemerintah pada upaya pencegahan longsor secara permanen.
Pemerintah Kota melalui tim kebencanaan sebelumnya bergerak cepat membersihkan material yang menutup badan jalan sehingga mobilitas warga tidak terganggu terlalu lama.
Namun di balik pemulihan itu, perhatian utama kini beralih pada penguatan struktur kawasan yang dinilai masih memiliki kerentanan tinggi terhadap pergerakan tanah.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Samarinda, Budy Santoso, menjelaskan bahwa lokasi tersebut sebenarnya telah masuk dalam daftar prioritas penanganan sejak awal tahun.
Pemerintah bahkan telah menyiapkan alokasi anggaran khusus sebagai langkah mitigasi lanjutan.
“Sebenarnya itu sudah masuk rencana tahun ini, jadi tahun ini ada anggarannya. Memang itu kan sudah diprediksi kemungkinan longsornya. Makanya di tahun ini, kami ada anggaran untuk mengantisipasi kelongsoran itu,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Dalam pendekatan teknis, pemerintah memilih strategi rekayasa lereng dengan mengurangi bagian tebing yang dianggap paling berisiko.
Metode ini dilakukan melalui penggalian pada area rawan sehingga potensi longsor tidak lagi langsung mengarah ke badan jalan utama.
Selain itu, penguatan tanah menggunakan material geotekstil juga disiapkan pada titik tertentu yang memiliki karakteristik berbeda.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan stabilitas tanah sekaligus memperpanjang usia infrastruktur di kawasan tersebut.
“Longsor kemarin itu kami hilangkan saja daerah rawannya. Jadi digali, paling masuk sekitar 5 sampai 10 meter. Tujuannya supaya kalau seandainya longsor, enggak kena badan jalan lagi,” jelasnya.
Pilihan metode penggalian juga dipertimbangkan dari sisi sosial dan administratif, terutama terkait kepemilikan lahan di sekitar tebing.
Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel dibandingkan pembangunan turap yang kerap memerlukan proses perizinan lebih kompleks.
Pemerintah juga merancang sistem drainase baru agar aliran air hujan tidak langsung menggerus lereng.
Penataan ini menjadi bagian penting dari strategi pencegahan karena air permukaan selama ini menjadi salah satu pemicu utama ketidakstabilan tanah.
Meski badan jalan telah dinyatakan selesai, pekerjaan mitigasi masih akan terus berlanjut sepanjang tahun. Beberapa titik dengan kondisi tebing sangat tinggi bahkan memerlukan kajian teknis lebih mendalam karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Ada beberapa titik yang sudah terbaca rawan, terutama di tebing tinggi. Itu memang butuh perencanaan matang karena biayanya juga tidak sedikit,” pungkasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







