Samarinda, Kaltimetam.id – Uji coba 10 unit insinerator ramah lingkungan di Kota Samarinda justru mengungkap persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah. Bukan pada teknologinya, melainkan pada kondisi sampah itu sendiri yang masih didominasi oleh sampah basah dan belum terpilah sejak dari sumbernya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda kini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional alat tersebut. Dari hasil sementara, efisiensi pembakaran dinilai belum optimal karena sampah yang masuk masih bercampur dan membutuhkan proses pemilahan yang panjang.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa skema awal yang mencoba mengangkut sampah langsung dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) ke insinerator tidak berjalan sesuai harapan.
“Kami mencoba membawa sampah segar langsung dari TPS ke insinerator, namun proses pemilahannya memakan waktu yang sangat lama,” ujar Taufiq belum lama ini.
Dalam praktiknya, satu dump truck berisi 3 hingga 4 ton sampah campuran tidak bisa langsung diproses. Petugas harus memilah terlebih dahulu, yang ternyata memakan waktu hingga lima hari hanya untuk satu muatan.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada kinerja insinerator. Dari total sampah yang diangkut, hanya sekitar sepertiga yang dapat dibakar, sementara sisanya tetap harus dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Situasi berbeda terlihat ketika insinerator menggunakan sampah yang telah melalui proses pemilahan. Dalam kondisi ini, alat justru bekerja jauh lebih optimal dan efisien.
“Ketika sampah sudah terpilah, petugas hanya perlu menyisihkan limbah B3 yang tidak boleh dibakar. Sisanya bisa langsung masuk ke mesin tanpa perlu pemilahan ulang yang memakan waktu,” jelas Taufiq.
Ia menambahkan, dengan bahan baku yang sudah sesuai, insinerator berkapasitas 3 ton mampu menyelesaikan proses pembakaran dalam waktu kurang dari setengah hari.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada alat, melainkan pada sistem pengelolaan sampah sebelumnya.
Belajar dari temuan tersebut, DLH Samarinda kini mengubah pendekatan. Fokus tidak lagi semata pada pengolahan di hilir, tetapi juga pada perbaikan di tingkat hulu melalui pemilahan sampah sejak dari TPS.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah penerapan konsep “TPS Terpilah” yang akan menjadi pemasok utama bagi insinerator. Program ini direncanakan dimulai sebagai proyek percontohan di TPS Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang.
Menurut Taufiq, keberhasilan program ini sangat bergantung pada pengaturan akses di lokasi TPS. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa TPS dengan akses terbuka cenderung sulit dikendalikan karena sampah datang dari berbagai sumber tanpa proses pemilahan.
“Jika aksesnya terbatas, target edukasi kita menjadi lebih jelas dan terarah. Kami belajar dari upaya sebelumnya yang belum berhasil agar kali ini lebih optimal,” tambahnya.
Melalui pendekatan ini, DLH berharap dapat membangun pola baru dalam pengelolaan sampah, di mana masyarakat mulai memilah sampah dari rumah sebelum dibuang ke TPS.
Namun, pada tahap awal, peran petugas tetap dibutuhkan untuk memastikan proses berjalan sesuai rencana. Petugas akan disiagakan di lokasi untuk memberikan arahan sekaligus edukasi kepada warga.
Hingga saat ini, DLH masih mematangkan rencana penerapan di sejumlah titik TPS terpilah yang akan dikembangkan. Koordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan terus dilakukan guna memastikan kesiapan di lapangan.
“Kami sedang mematangkan lokasi dan berkoordinasi dengan pihak kelurahan serta kecamatan karena dukungan warga sangat krusial. Harapannya, program ini bisa segera diluncurkan dalam waktu dekat,” tutupnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
