Hujan Deras Sebabkan Longsor di Pemakaman Samarinda, 12 Ahli Waris Setuju Relokasi

Longsor di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cempaka Samarinda. (Foto: Istimewa)

Samarinda, Kaltimetam.id – Derasnya hujan yang mengguyur Kota Samarinda selama beberapa hari terakhir membawa dampak yang sangat serius bagi kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cempaka, yang terletak di Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu.

Banjir yang terjadi secara berturut-turut akhirnya memicu longsor besar yang merusak sejumlah makam, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sekitar 30 makam dilaporkan terdampak longsor yang terjadi setelah banjir kedua melanda pada Selasa (28/5). Kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang terus-menerus menyebabkan lereng TPU tak mampu lagi menahan beban, sehingga menyebabkan sebagian area makam runtuh dan mengancam keberadaan makam-makam yang berada di lokasi rawan.

Salah seorang penggali makam di TPU Cempaka, Ariyanto menceritakan bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Menurutnya, banjir pertama yang datang pada Senin belum menimbulkan kerusakan serius. Namun, banjir kedua pada hari berikutnya membawa dampak lebih parah.

“Air sudah tinggi sejak Senin, tapi masih bisa kami atasi. Tapi Selasa, banjir besar datang lagi. Tanah makin jenuh dan akhirnya longsor,” ungkap Ariyano.

Ia menyebutkan bahwa sekitar 30 makam diperkirakan terdampak, meskipun yang telah terverifikasi dan dikunjungi keluarganya baru sekitar 10. Turapan dan fondasi cakar ayam yang sebelumnya dibangun untuk memperkuat struktur lereng pun jebol akibat tekanan air dan pergerakan tanah.

“Mau tidak mau kami datangkan ekskavator untuk memperkuat dan menggali ulang area yang rusak,” jelasnya.

Dalam kondisi darurat tersebut, pihak pengurus TPU Cempaka memutuskan untuk melakukan relokasi terhadap makam-makam yang terdampak. Langkah ini diambil demi menghindari kerusakan lebih lanjut dan menjaga keutuhan jenazah yang telah dimakamkan.

Namun, proses relokasi bukanlah hal mudah. Persetujuan dari pihak keluarga jenazah harus didapatkan terlebih dahulu sebelum pemindahan dilakukan.

“Kami sudah mulai menghubungi keluarga yang makamnya terdampak. Ada yang langsung setuju, seperti Pak Idris. Tapi ada juga yang masih dalam proses musyawarah keluarga,” tutupnya.

Terpisah, Camat Samarinda Ulu, Sujono, membenarkan bahwa tanda-tanda pergerakan tanah di kawasan TPU Cempaka sebenarnya sudah terdeteksi sejak dua pekan sebelumnya. Retakan kecil mulai terlihat, namun intensitas hujan yang tinggi dalam dua hari terakhir mempercepat proses longsor.

“Senin dan Selasa itu hujan terus-menerus, sangat deras. Retakan yang kecil berubah jadi pergerakan besar, tanah amblas dan sebagian makam ikut terbawa,” ungkap Sujono.

Menyikapi situasi ini, pemerintah kecamatan segera melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), serta pengurus makam. Mereka membentuk tim darurat untuk mengatur proses pemindahan, sambil tetap menjaga aspek kemanusiaan dan etika dalam penanganan jenazah.

“Sudah ada 12 keluarga yang bersedia makam keluarganya dipindah. Empat makam sudah berhasil kami pindahkan ke lokasi yang lebih aman di TPU yang sama,” ujarnya.

Sujono juga menambahkan bahwa tujuh jenazah lainnya akan dipindahkan malam ini, setelah seluruh persetujuan dan persiapan teknis diselesaikan.

Meski proses relokasi berjalan, tak semua keluarga bisa segera memberikan keputusan. Beberapa masih harus berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya yang tersebar di tempat berbeda. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.

“Dalam satu makam, ahli warisnya bisa lima atau enam orang. Kami tidak bisa pindahkan tanpa izin semua pihak terkait. Jadi proses ini memerlukan kesabaran dan kehati-hatian,” jelas Sujono.

Sementara itu, masih terdapat sekitar 18 makam lagi yang belum bisa dipindahkan karena pihak keluarga belum memberikan persetujuan. Pemerintah setempat terus mengimbau kepada keluarga yang memiliki kerabat dimakamkan di lokasi terdampak untuk segera melapor ke pengurus TPU atau ke Rukun Kematian Muslimin (RKM) setempat.

“Kami sudah minta bantuan RKM untuk menyebarkan informasi. Semoga keluarga yang belum tahu bisa segera menghubungi kami,” katanya.

Untuk menghindari kejadian serupa di masa depan, pemerintah telah berkoordinasi dengan Dinas Perkim dan konsultan teknis guna merancang perbaikan permanen di kawasan pemakaman.

“Pak Kadis Perkim sudah menyampaikan bahwa ini akan diusulkan dalam perubahan anggaran tahun 2025. Pembangunan turapan baru di titik-titik rawan longsor akan jadi prioritas,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version