Samarinda, Kaltimetam.id – Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan para pedagang di Pasar Segiri Samarinda.
Lonjakan harga yang cukup signifikan tidak hanya memengaruhi biaya modal, tetapi juga berdampak pada pola belanja konsumen yang kini cenderung mengurangi jumlah pembelian.
Salah satu pedagang plastik, Haji Basri, mengungkapkan bahwa harga plastik mengalami kenaikan tajam dibandingkan sebelumnya.
Jika dulu satu pak plastik bisa dijual dengan harga Rp10.000, kini harus dilepas di kisaran Rp16.000 per pak.
“Iya, dulu Rp10.000, sekarang kita jual Rp16.000,” ujarnya, Jum’at (22/5/2026).
Kenaikan tersebut juga terjadi pada pembelian dalam jumlah besar. Untuk satu karung plastik, harga yang sebelumnya berkisar Rp800 ribu kini melonjak hingga lebih dari Rp1 juta.
Bahkan, saat ini harga dari tingkat pabrik sudah menyentuh angka Rp1,2 juta hingga Rp1,3 juta per karung.
Tak hanya plastik ukuran kecil, jenis plastik berukuran besar dan berwarna pun mengalami kenaikan serupa.
Kondisi ini membuat pedagang tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual agar tidak mengalami kerugian.
Meski demikian, Haji Basri menegaskan bahwa stok plastik di pasaran masih tergolong aman. Distribusi barang dari agen dan pabrik masih berjalan lancar, hanya saja harga yang tinggi menjadi tantangan utama bagi para pelaku usaha.
“Stok aman saja, cuma harganya mahal,” katanya singkat.
Dari sisi permintaan, ia mengakui terjadi perubahan perilaku konsumen. Pembeli yang biasanya membeli dalam jumlah banyak kini mulai mengurangi volume belanja akibat harga yang meningkat.
“Biasanya beli empat, sekarang jadi dua,” ungkapnya.
Hal ini secara tidak langsung berdampak pada penurunan omzet pedagang, meskipun jumlah pembeli secara umum masih relatif stabil. Menurutnya, masyarakat tetap membeli plastik, namun dengan kuantitas yang lebih sedikit.
Ia juga menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik diduga dipengaruhi oleh faktor global, terutama terkait bahan baku yang berasal dari minyak.
Kondisi geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah, disebut turut memberi dampak pada harga produksi.
“Katanya sih dari minyak, karena bahan plastik kan dari situ,” jelasnya.
Di sisi lain, kenaikan harga ini juga membuat pedagang harus mengeluarkan modal lebih besar saat melakukan pembelian barang ke agen.
Jika sebelumnya cukup mengeluarkan sekitar Rp700 ribu untuk satu karung, kini dana yang dibutuhkan bisa mencapai Rp1 juta atau lebih.
Meski menghadapi tekanan tersebut, pedagang tetap berusaha bertahan dengan menyesuaikan harga jual di tingkat pasar.
Mereka tidak memiliki banyak ruang untuk menahan harga karena barang yang dijual sepenuhnya bergantung pada harga dari pabrik.
“Kalau tidak kita naikkan, ya kita yang rugi,” tandasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
