Harga Miring Jadi Magnet, Pasar Helm Bekas Tetap Hidup di Tengah Lonjakan Kasus Pencurian

Lapak penjual helm bekas di kawasan simpang A.M. Sangaji–Perniagaan Samarinda. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Di tengah padatnya arus lalu lintas di kawasan A.M. Sangaji–Perniagaan, aktivitas jual beli helm bekas terus berlangsung tanpa henti. Ramainya transaksi di lokasi ini bukan sekadar karena harga miring, tetapi karena fenomena lain yang jauh lebih serius, ialah tingginya pencurian helm yang membuat warga akhirnya “menyambung hidup” dengan pasar barang bekas tersebut.

Hampir setiap hari, lapak-lapak di simpang A.M. Sangaji dipadati helm dari berbagai kondisi dan merek. Banyak warga datang bukan hanya untuk berhemat, tetapi karena sudah menjadi korban pencurian berulang kali.

Warga akhirnya membeli helm bekas sebagai pilihan paling realistis dibanding terus membeli helm baru yang harganya tidak murah.

Fenomena ini semakin mencuat setelah sebuah video viral memperlihatkan seorang pencuri helm di Samarinda Ulu yang berhasil diamankan warga. Dalam video itu, pelaku mengakui bahwa ia menjual barang curiannya ke lokasi yang sama, di Jalan A.M. Sangaji.

Pengakuan tersebut memicu kembali sorotan publik terhadap keberadaan pasar helm bekas yang berdiri tak jauh dari Pasar Segiri itu.

Bagi warga seperti Zibril (27), persoalan ini bukan lagi perdebatan moral, melainkan soal bertahan hidup dan meminimalkan kerugian.

Ia mengaku pernah dua kali menjadi korban pencurian dan akhirnya memilih membeli helm bekas di kawasan tersebut.

“Beli baru pun hilang lagi. Jadi ya beli di sini saja, lebih murah,” ucapnya, Jum’at (16/1/2026).

Harga helm bekas yang dijual pedagang memang membuat banyak orang tergoda. Helm GM misalnya, dijual seharga Rp100 ribu sampai Rp150 ribu untuk kondisi standar. Kondisi yang lebih bersih bisa mencapai Rp200 ribu.

Merek lain seperti Bogo, Cargloss, hingga KYT pun dijual dengan selisih harga jauh di bawah toko resmi.

Di balik harga miring itu, aktivitas pedagang berlangsung terbuka. Salah seorang penjual mengaku bahwa mereka kerap menerima helm dari siapa pun yang datang menawarkan barang, meski kualitas tetap menjadi penentu diterima atau tidaknya barang tersebut.

“Kalau kondisinya parah, kami tidak ambil. Sulit dijual lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa transaksi dilakukan tunai, tanpa sistem tukar tambah. Harga jual ke konsumen pun bergantung pada kondisi fisik helm.

Pantauan di lapangan menunjukkan rentang harga yang cukup konsisten di beberapa lapak:
– Cargloss: Rp150 ribu (kondisi kurang bersih) – Rp200 ribu (kondisi bersih)
– Bogo: Rp100 ribu – Rp120 ribu
– GM: Rp100 ribu – Rp200 ribu
– KYT: Rp200 ribu – Rp450 ribu tergantung jenis

Maraknya pasar helm bekas ini pada akhirnya memperlihatkan sebuah lingkaran yang tak terputus, yakni pencurian terus terjadi, warga terus kehilangan, dan pasar helm bekas terus tumbuh karena kebutuhan.

Selama ekosistem keamanan parkir di Samarinda tidak dibenahi, transaksi seperti ini akan tetap terjadi secara terbuka, bahkan menjadi bagian dari denyut ekonomi harian kota. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version