Helm Hilang di Mana-mana, Samarinda Hadapi Krisis Keamanan Publik

Halaman parkir Taman Cerdas Samarinda menjadi lokasi yang kerap terjadi aksi pencurian helm. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Fenomena pencurian helm di Samarinda kembali menyoroti lemahnya sistem keamanan kota. Meski berbagai fasilitas publik dilengkapi penjaga parkir, kamera pengawas, hingga pungutan parkir resmi, kasus kehilangan helm terus terjadi dan seolah dianggap sebagai hal lumrah oleh masyarakat.

Kasus-kasus terbaru menunjukkan bahwa tindak pencurian tidak hanya terjadi di tempat sunyi, tetapi justru di pusat aktivitas publik yang seharusnya memiliki standar pengawasan tinggi, mulai dari taman kota, pusat keramaian, hingga area dengan penjagaan petugas keamanan.

Salah satu lokasi yang disorot adalah Taman Cerdas Samarinda. Area yang berada dekat Gedung PKK dan Rumah Jabatan Wali Kota itu nyatanya tidak mampu menjamin keamanan barang pengunjung.

Jalia (25), salah satu warga, kehilangan helm bermerk GM saat berada di lokasi tersebut.

Ia mengaku awalnya menaruh helm di spion seperti biasa. Namun saat temannya hendak pulang lebih dulu, barulah ia sadar helmnya hilang bersamaan dengan helm milik temannya yang bermerek sama. Total kerugian keduanya mencapai Rp500 ribu.

Jalia menilai kasus itu tak lepas dari lemahnya pengawasan. Ia mendorong aparat penegak hukum untuk lebih responsif.

“Kalau ada laporan kehilangan, harus cepat ditindak. Penjual helm bekas juga jangan asal menerima barang yang dicurigai hasil curian,” tegasnya, Sabtu (17/1/2026).

Dugaan kegagalan pengawasan ini juga tampak dari pengalaman Agustin (23). Selama lima tahun tinggal di Samarinda, ia sudah tiga kali kehilangan helm, padahal dua di antaranya terjadi di lokasi dengan penjaga parkir dan pungutan resmi.

Kehilangan pertamanya terjadi di sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani pada 2023. Kejadian serupa terulang pada Juli 2025 saat ia menghadiri festival di GOR Segiri yang dijaga banyak petugas parkir. Meski helm sudah ia selipkan di bawah jok, barang itu tetap raib.

Kehilangan ketiganya justru terjadi di tempat yang dianggap paling aman, yakni kompleks Balai Kota Samarinda. Saat itu, CCTV tidak berfungsi karena renovasi bangunan.

“Bayar parkir pun tidak menjamin. Sudah ada banyak tukang parkir, tapi tetap hilang,” keluhnya.

Kerugiannya kini mencapai hampir Rp1 juta. Trauma membuatnya enggan membeli helm baru lagi.

“Takut hilang lagi,” ujarnya.

Sejumlah warga menilai maraknya pencurian helm sudah menjadi budaya negatif yang dibiarkan begitu saja. Kondisi ini memunculkan reaksi pasrah, bahkan sinis.

“Kehilangan helm di Samarinda sekarang sudah dianggap biasa. Kayak hal lumrah. Ini tidak boleh dibiarkan,” tegas Agustin.

Ia mendesak pemerintah dan aparat keamanan melakukan evaluasi total, mulai dari tata kelola parkir, fungsi pengawasan petugas, hingga pengawasan pedagang helm bekas. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version