Empat Bulan Tergenang, Warga Polder Air Hitam Samarinda Keluhkan Drainase Tak Berfungsi

Banjir yang tak kunjung surut di Polder Air Hitam Samarinda. (Foto: Istimewa)

Samarinda, Kaltimetam.id – Sejumlah warga yang bermukim di kawasan Polder Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, mengeluhkan genangan air yang kerap merendam halaman rumah mereka dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut dinilai cukup mengganggu aktivitas warga karena air yang menggenang membutuhkan waktu lama untuk surut.

Warga menduga permasalahan tersebut berkaitan dengan sistem drainase di sekitar permukiman yang tidak lagi berfungsi secara maksimal. Saluran air yang ada disebut telah dipenuhi lumpur serta endapan material tanah sehingga aliran air tidak dapat mengalir dengan lancar.

Salah satu warga setempat, La Sugana, mengatakan genangan air mulai sering terjadi sejak sekitar empat bulan terakhir. Ia menyebut setiap kali hujan turun, air dengan cepat menggenangi halaman rumah warga dan tidak segera mengalir keluar.

“Sudah sekitar empat bulan terakhir halaman rumah kami sering tergenang. Airnya tidak cepat surut karena saluran air di sekitar sini sudah tidak berfungsi dengan baik,” ujarnya.

Menurut Sugana, di lingkungan tersebut sebenarnya telah tersedia parit yang berfungsi sebagai saluran drainase. Namun kondisi saluran tersebut kini dipenuhi endapan lumpur dan sedimen sehingga tidak mampu lagi menampung debit air yang datang saat hujan turun.

Ia juga menyebut beberapa gorong-gorong yang berada di sekitar kawasan permukiman mengalami penyumbatan akibat sedimentasi. Kondisi tersebut membuat air hujan tidak memiliki jalur pembuangan yang memadai.

“Parit memang ada, tetapi sekarang sudah dipenuhi lumpur. Bahkan beberapa gorong-gorong juga tersumbat, jadi air tidak bisa mengalir dengan lancar,” jelasnya.

Warga menduga sedimentasi yang terjadi di saluran drainase tersebut berkaitan dengan aktivitas pematangan lahan yang berlangsung di sekitar kawasan tersebut. Material tanah dari area tersebut diduga terbawa aliran air saat hujan dan kemudian masuk ke dalam saluran air di lingkungan warga.

Akibatnya, endapan tanah terus menumpuk di dalam parit hingga akhirnya mempersempit bahkan menutup jalur aliran air.

Setiap kali hujan turun, air yang seharusnya mengalir menuju saluran pembuangan justru tertahan di sekitar permukiman dan menggenangi halaman rumah warga.

“Kalau hujan turun, air langsung naik ke halaman rumah. Karena salurannya tersumbat, airnya lama sekali baru bisa surut,” katanya.

Selain menimbulkan ketidaknyamanan, genangan air yang berlangsung cukup lama juga menimbulkan kekhawatiran warga terkait dampak kesehatan lingkungan. Air yang menggenang berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk serta memicu munculnya penyakit yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan.

Sugana mengaku hingga saat ini warga belum melihat adanya upaya penanganan dari pihak terkait untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kondisi itu membuat warga berharap adanya perhatian lebih serius dari pemerintah.

“Sejauh ini kami belum melihat ada penanganan. Padahal genangan ini sudah terjadi cukup lama,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan langkah perbaikan, seperti pembersihan parit dari lumpur, normalisasi drainase, serta pembenahan gorong-gorong agar aliran air dapat kembali berjalan dengan lancar.

Menurutnya, jika saluran drainase kembali berfungsi dengan baik, genangan air yang selama ini terjadi kemungkinan dapat segera teratasi.

Sugana juga berencana menyampaikan persoalan tersebut kepada DPRD Kota Samarinda agar permasalahan yang dialami warga dapat segera mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.

“Kami berharap ada normalisasi drainase dan pembersihan saluran air supaya genangan ini tidak terus terjadi,” harapnya.

Sementara itu, pihak media telah mencoba menghubungi instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, untuk mengonfirmasi apakah pihaknya mengetahui adanya aktivitas pematangan lahan di kawasan tersebut yang diduga memicu sedimentasi pada saluran drainase. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version