DLH Samarinda Kejar Standar 800°C untuk Minimalkan Asap Insinerator

Unit insinerator di Lok Bahu menjadi bagian dari program modernisasi pengelolaan sampah Kota Samarinda yang kini masuk tahap uji teknis. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)
Unit insinerator di Lok Bahu menjadi bagian dari program modernisasi pengelolaan sampah Kota Samarinda yang kini masuk tahap uji teknis. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id  — Upaya modernisasi pengelolaan sampah di Samarinda memasuki tahap krusial. Pemerintah kota melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tak hanya menyiapkan insinerator sebagai mesin pembakaran, namun juga membangun kesiapan sumber daya manusia dan memastikan seluruh tahapan pengujian berjalan aman.

Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang berfokus pada kesiapan alat, DLH kini menempatkan kualitas operator sebagai titik awal keberhasilan program ini.

Mesin bersuhu ekstrem ini dianggap tidak boleh dijalankan tanpa pemahaman teknis yang memadai.

Plt Kepala DLH Samarinda, Suwarso, menegaskan bahwa operasional insinerator sangat bergantung pada ketelitian manusia yang mengoperasikannya.

“Ini mesin baru dengan suhu lebih dari 800 derajat. Operator harus terlatih dan paham keselamatan kerja,” jelasnya, Senin (19/1/2026).

Hingga pertengahan Januari, baru 24 orang yang lolos seleksi awal, jauh dari kebutuhan total 72 operator.

DLH berencana membuka rekrutmen lanjutan karena beban kerja dan risiko lapangan menuntut calon operator memiliki kesiapan mental dan pengetahuan teknis yang kuat.

“Seleksinya memang ketat. Lingkungannya tidak biasa, jadi kami butuh SDM yang benar-benar siap,” sambung Suwarso.

Dijelaskannya, insinerator dirancang bekerja pada suhu tinggi agar pembakaran berlangsung sempurna dan tidak menghasilkan asap tebal. Vendor penyedia, Wisanggeni Generasi 7, menyebut proses uji coba membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Pada fase awal, insinerator hanya dipanaskan di kisaran 300–400°C. Jika dinding insinerator sudah stabil dan sistem pendinginnya siap, barulah pengoperasian ditingkatkan menuju target 800°C.

Tahap ini dinilai sangat sensitif. Suhu yang belum tercapai atau dinding mesin yang masih lembap berpotensi menghasilkan kepulan asap berlebih.

Beberapa unit telah masuk tahap uji coba di titik kota yang padat aktivitas, seperti Polder Air Hitam dan Jalan Nusyirwan Ismail.

Ke depan, DLH juga akan mengoperasikan insinerator di kawasan Wanyi, Lempake, hingga Bukit Pinang.

Namun proses distribusi tak selalu mulus. Di wilayah Loa Janan Ilir, perakitan masih tertunda karena akses jalan menuju lokasi sulit dilalui. Mobilisasi alat harus dilakukan bertahap agar tidak menimbulkan kerusakan.

Di sisi lain, DLH meminta pendampingan vendor secara berkelanjutan untuk memastikan seluruh komponen bekerja normal saat masa uji maupun operasional penuh.

“Kami pastikan setiap unit aman digunakan dan tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan,” ujar Suwarso. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id