Dirawat Karena Muntaber, Bayi di Samarinda Justru Alami Luka dan Bengkak di Tangan Diduga Akibat Infus

Rafita, ibu korban bayi 3 bulan yang mengalami pemengkakan di tangan diduga karena infus. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Seorang bayi berusia tiga bulan di Kota Samarinda diduga mengalami komplikasi serius pada bagian tangan setelah menjalani perawatan medis di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS). Orang tua korban berharap adanya penanganan lanjutan secara maksimal agar kondisi anaknya dapat pulih sepenuhnya.

Bayi tersebut awalnya dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD AWS pada Jumat malam, (6/3/2026), sekitar pukul 22.00 Wita, dengan keluhan muntah dan diare. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, dokter mendiagnosis bayi mengalami kekurangan cairan sehingga dilakukan tindakan pemasangan infus.

“Awalnya anak kami dibawa ke rumah sakit karena muntaber, lalu dipasang infus di tangan kiri dan dirawat di ruang Melati,” ujar orang tua korban, Rafita (28), saat ditemui di rumahnya di Jalan Abdoel Wahab Syahrani, Gang 3, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu, Selasa (30/03/2026).

Kondisi mulai berubah pada Sabtu malam (7/3/2026), saat infus yang terpasang di tangan kiri disebut terlepas. Bayi kemudian dibawa ke ruang tindakan untuk pemasangan infus ulang di tangan sebelah kanan. Setelah tindakan tersebut, bayi dilaporkan menjadi rewel dan terus menangis hingga keesokan harinya.

Menurut keluarga, kondisi tersebut sempat dianggap wajar oleh tenaga medis. Namun, pada Minggu pagi (8/3/2026), saat dilakukan pemeriksaan lanjutan, ditemukan adanya pembengkakan pada tangan bayi.

“Perawat bilang infusnya tidak masuk ke pembuluh darah. Setelah dibuka, ternyata bengkaknya sudah parah,” katanya.

Keluarga mengungkapkan bahwa pembengkakan tidak hanya terjadi di area tangan, tetapi diduga telah menjalar hingga ke bagian dada. Selain itu, pada bekas pemasangan infus juga muncul perubahan warna kulit menjadi kehitaman dan melepuh.

Bayi kemudian kembali dibawa ke ruang tindakan untuk penanganan lebih lanjut, termasuk pemasangan infus ulang di lokasi berbeda. Dalam proses tersebut, pihak keluarga menyebut sempat disarankan untuk melakukan tindakan operasi oleh dokter bedah plastik.

Namun, saran tersebut ditolak oleh orang tua bayi. Mereka mengaku khawatir terhadap risiko yang mungkin timbul, terutama mengingat kondisi anak yang saat itu masih dalam perawatan akibat muntaber.

“Kami datang ke rumah sakit karena bayi kami mengalami diare, tetapi malah menimbulkan luka di tangan yang parah dan di minta operasi,, Kami takut kalau harus dioperasi, apalagi kondisinya masih kecil,” ungkapnya.

Setelah itu, penanganan disebut hanya berupa pembersihan luka dan penggantian perban tanpa tindakan lanjutan yang signifikan. Saat kontrol berikutnya, keluarga mengaku tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut karena dokter yang dituju tidak berada di tempat.

“Kami hanya diarahkan ke ruang perawatan luka, dibersihkan, lalu diganti perban. Setelah itu tidak ada tindak lanjut lagi,” tambahnya.

Keluarga juga menyampaikan keberatan atas kondisi yang dialami bayi, namun mengaku belum mengajukan laporan resmi. Mereka berharap pihak rumah sakit dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi anak mereka.

“Harapan kami cuma satu, anak kami bisa diobati sampai sembuh seperti semula,” harapnya.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD AWS terkait kejadian tersebut. Kasus ini pun menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan pasien, khususnya bayi, dalam pelayanan medis. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id