Samarinda, Kaltimetam.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Samarinda mulai mempersiapkan pembangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari kerja sama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dengan yayasan pelaksana program nasional tersebut.
Tak hanya menjadi lokasi pelayanan makan bergizi, dapur MBG di lingkungan lapas nantinya juga akan menjadi sarana pembinaan keterampilan kerja bagi warga binaan agar memiliki bekal usaha dan kemampuan setelah bebas dari masa pidana.
Kepala Lapas Kelas IIA Samarinda, Yohanis Varianto mengatakan, pembangunan dapur MBG saat ini masih dalam tahap proses dan penyesuaian berbagai persyaratan teknis sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
“Dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan memang bekerja sama dengan MBG melalui yayasan-yayasan mengharapkan bahwa untuk dapur MBG bisa ada titiknya di lapas,” ujarnya.
Menurut Yohanis, secara nasional hanya sekitar 28 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang mendapat kesempatan menjadi lokasi pelaksanaan program tersebut pada tahap awal.
“Untuk sementara tahun ini kurang lebih 28 UPT Pemasyarakatan di seluruh Indonesia yang mendapatkan itu,” katanya.
Ia menjelaskan, sebelumnya program serupa telah diterapkan di sejumlah lapas lain sebagai proyek percontohan dan dinilai berjalan cukup baik sehingga kini mulai diperluas ke berbagai daerah, termasuk Samarinda.
“Karena melihat program MBG-nya bagus, akhirnya kita diberikan kepercayaan untuk itu. Termasuk salah satunya di Lapas Samarinda,” ucapnya.
Saat ini, progres pembangunan dapur MBG disebut telah berjalan dan pihak lapas terus melakukan penyesuaian terhadap standar Badan Gizi Nasional (BGN).
“Sementara ini memang lagi dalam proses progres pembangunan. Mudah-mudahan sambil kita melihat untuk persyaratan-persyaratannya sesuai dengan standar BGN,” katanya.
Selain pembangunan fisik dapur, keterlibatan warga binaan dalam operasional program juga menjadi salah satu fokus utama pembinaan di Lapas Samarinda.
Yohanis mengatakan, sebagian tenaga pendukung dapur nantinya akan melibatkan warga binaan yang telah memenuhi syarat tertentu.
“Karena ini masih di lingkungan lapas, memang disarankan untuk beberapa pekerja itu dari warga binaan,” tuturnya.
Meski demikian, sejumlah posisi penting seperti ahli gizi, kepala SPPG, serta tenaga profesional lainnya tetap berasal dari masyarakat umum di luar lapas.
“Kalau ahli gizi, kepala SPPG dan tenaga ahli lainnya memang dari luar,” jelasnya.
Sementara warga binaan nantinya akan ditempatkan di bagian pendukung seperti kebersihan, penataan perlengkapan makan, hingga membantu operasional dapur lainnya.
“Kita berikan juga tenaga untuk bisa membantu misalnya bagian kebersihan atau mungkin hal-hal lain yang dipandang perlu,” tegasnya.
Yohanis menegaskan, tidak semua warga binaan dapat langsung dilibatkan dalam program tersebut.
Pihak lapas hanya akan memilih warga binaan yang telah menjalani sebagian besar masa pidana dan dinilai layak mengikuti program kerja luar.
“Bagi mereka yang sudah menjalani dua per tiga, jadi dalam proses pembebasan bersyarat, itu yang kita akan pekerjakan,” tambahnya.
Selain itu, sebelum diterjunkan ke dapur MBG, warga binaan terlebih dahulu akan mendapatkan pelatihan khusus terkait pengolahan makanan, kebersihan, hingga standar operasional dapur.
Mereka juga akan menjalani pembinaan awal di dapur internal lapas sebelum nantinya ditempatkan membantu program MBG.
“Kita latih dulu di dapur dalam lapas, nanti diberikan pelatihan-pelatihan khusus terkait untuk itu,” katanya.
Menurut Yohanis, seluruh warga binaan yang mengikuti pelatihan nantinya juga akan mendapatkan sertifikat keterampilan sebagai bekal kerja setelah bebas.
“Nanti mereka akan mendapatkan sertifikat dan itu menjadi modal mereka juga ketika nanti setelah keluar dari sini,” ujarnya.
Ia berharap keterampilan tersebut dapat membantu warga binaan memiliki peluang usaha maupun pekerjaan baru saat kembali ke tengah masyarakat.
“Ketika mereka bebas nanti bisa mereka gunakan untuk berkarya,” lanjutnya.
Terkait sistem keamanan, Yohanis memastikan seluruh aktivitas warga binaan dalam program tersebut tetap berada di bawah pengawasan ketat petugas lapas.
Setiap proses keluar masuk area kerja dilakukan sesuai prosedur dan SOP pengamanan yang berlaku.
“Pengeluaran dengan pengawalan dari petugas itu sudah pasti, dengan pengawasan dari petugas,” tegasnya.
Ia juga menanggapi kemungkinan munculnya persepsi negatif masyarakat terkait makanan yang diolah dengan melibatkan warga binaan.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir karena sistem pengelolaan tetap berada di bawah pengawasan tenaga profesional dan standar kebersihan yang ketat.
“Walaupun diberikan kepercayaan di bagian pengolahan makanan, tapi memang sudah dilatih dan kebersihannya juga bisa terjamin,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







