Cegah Krisis Air, Samarinda Kaji Intake Baru hingga Loa Kulu

Instalasi pengolahan air milik Perumdam Tirta Kencana Samarinda yang menjadi penopang distribusi air bersih di tengah antisipasi musim kemarau. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai memfokuskan perhatian pada ketahanan pasokan air bersih seiring potensi musim kemarau yang kian terasa.

Bukan hanya soal berkurangnya debit air, ancaman intrusi air laut ke Sungai Mahakam juga menjadi faktor krusial yang dapat mengganggu kualitas air baku.

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda yang juga Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, Marnabas Patiroy, mengungkapkan bahwa pola intrusi air laut terus dipantau, terutama saat intensitas hujan mulai menurun.

“Intrusi air laut ini terus kita pantau. Selama hujan masih ada, kondisinya relatif aman,” ujar Marnabas, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, kondisi saat ini masih terkendali karena curah hujan yang masih turun secara berkala mampu menahan laju masuknya air laut ke Sungai Mahakam.

Namun, ia mengingatkan situasi bisa berubah cepat jika kemarau berlangsung lebih panjang.

“Kalau kemarau panjang, potensi intrusi bisa semakin masuk ke hulu. Itu yang kita antisipasi sejak sekarang,” lanjutnya.

Sebagai bagian dari langkah antisipasi, Pemkot bahkan mengkaji ulang data historis kemarau ekstrem, termasuk kejadian pada 1998, untuk mengetahui sejauh mana intrusi air laut pernah terjadi.

Dari kajian tersebut, muncul opsi untuk membuka titik pengambilan air baku baru di wilayah yang dinilai lebih aman dari intrusi, salah satunya di kawasan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Salah satu opsi yang kita lihat adalah di Loa Kulu, karena relatif lebih aman dari intrusi. Tapi ini masih perlu pembahasan lintas daerah,” jelas Marnabas.

Selain skenario jangka menengah, langkah tanggap darurat juga telah disiapkan untuk menjamin distribusi air bersih tetap berjalan, khususnya bagi masyarakat di wilayah dengan akses terbatas.

Pemkot menyiapkan mobil tangki sebagai solusi distribusi sementara, sekaligus mengkaji potensi pemanfaatan air tanah sebagai sumber alternatif dengan tetap memperhatikan kualitasnya.

“Kalau kondisi terburuk terjadi, kita sudah siapkan langkah darurat, termasuk mobil tangki dan opsi sumber air lain,” demikian Marnabas. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version