BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Samarinda, Puncak Hujan Terjadi Desember–Januari

Kepala Stasiun BMKG Samarinda, Riza Arian Noor. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Meski memasuki periode curah hujan kategori menengah pada Desember, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Potensi cuaca ekstrem dipastikan masih dapat terjadi hingga awal tahun mendatang, terutama pada fase puncak hujan yang diproyeksikan berlangsung pada Desember–Januari serta kembali memuncak pada Maret–April 2026.

Kepala Stasiun BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan curah hujan 10 harian, intensitas hujan di wilayah Samarinda berada dalam kategori menengah. Meskipun demikian, dinamika atmosfer yang tidak stabil dapat memicu terjadinya hujan lebat mendadak yang berpotensi memunculkan banjir, genangan, serta gangguan aktivitas masyarakat.

“Curah hujan dari awal hingga akhir Desember berkisar pada kategori menengah berdasarkan data pemantauan 10 harian. Namun bicara cuaca ekstrem, potensi itu tetap ada karena kondisi atmosfer sangat dinamis,” terangnya.

Riza mengungkapkan, faktor pemicu cuaca ekstrem tidak hanya berasal dari pola pembentukan awan lokal, tetapi juga dipengaruhi interaksi suhu laut, kelembaban udara, serta pergerakan angin regional. Walaupun Samarinda tidak berada dalam jalur pembentukan siklon tropis, potensi hujan sangat lebat tetap harus diantisipasi.

“Kalau siklon tidak berpotensi langsung terjadi di Samarinda karena posisi kita berada di ekuator. Jadi dampaknya tidak seekstrem wilayah yang dilintasi siklon tropis. Namun hujan lebat tetap bisa terjadi,” jelasnya.

Riza mencontohkan fenomena siklon tropis yang terjadi di Sumatera pada beberapa waktu lalu. Dalam kejadian tersebut, curah hujan ekstrem mencapai 300–400 milimeter hanya dalam satu hari, setara dengan akumulasi curah hujan bulanan di banyak daerah di Indonesia, termasuk Samarinda.

“Itu kan fenomena yang luar biasa. Curah hujan yang umumnya jatuh selama satu bulan bisa jatuh dalam satu hari. Dampaknya, bencana pun terjadi,” tegasnya.

BMKG juga mengungkapkan bahwa intensitas hujan tinggi tidak hanya terjadi pada puncak musim penghujan. Berdasarkan rekam data klimatologis Samarinda, hujan dengan intensitas di atas 50 milimeter per hari berpotensi terjadi sepanjang tahun.

“Bulan Januari, Februari, Maret, April, hingga Mei itu masih berpotensi hujan lebat. Bahkan pada bulan Mei, meskipun tidak terjadi banjir masif, potensi curah hujan tinggi tetap terekam dalam data,” ucapnya.

Hal ini mempertegas bahwa potensi banjir di Samarinda tidak hanya dipengaruhi intensitas curah hujan, tetapi juga kesiapan infrastruktur drainase, kapasitas aliran sungai, serta pola tata ruang yang masih menjadi tantangan besar kota ini.

Terkait sebaran intensitas hujan, BMKG menyebut hampir seluruh wilayah di Kota Samarinda memiliki potensi hujan tinggi yang relatif merata. Hal tersebut terjadi karena karakter geografis Samarinda yang tidak luas dan dikelilingi struktur cekungan serta aliran sungai besar.

“Kalau Samarinda ya hampir semua wilayah memiliki potensi. Kota kita kecil, jadi pengaruh hujan lebat bisa merata,” ujarnya.

Kondisi itu membuat penanganan banjir tidak bisa dipusatkan pada titik tertentu, melainkan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk kesiapan pompa, normalisasi drainase, dan optimalisasi kanal air.

BMKG menggarisbawahi bahwa langkah antisipasi terbaik saat ini adalah memperkuat sistem informasi cuaca dan meningkatkan literasi masyarakat terhadap peringatan dini. Informasi cuaca disebarkan secara berkala melalui kanal resmi BMKG, termasuk website bmkg.go.id serta platform media sosial dan grup berbasis pesan instan.

“Kami rutin menyampaikan peringatan dini setiap hari, bahkan setiap saat apabila ada perubahan kondisi cuaca signifikan. Kanal informasi BMKG aktif sebagai bentuk mitigasi dan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem,” tambahnya.

BMKG juga memastikan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, BPBD, serta lembaga kebencanaan lainnya tetap berjalan untuk memastikan penanganan cuaca ekstrem dapat dilakukan secara cepat dan terukur.

Memasuki pekan-pekan terakhir 2025, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai, daerah cekungan, dan kawasan dengan riwayat banjir berulang.

Riza mengimbau masyarakat untuk rutin memperbarui informasi cuaca, membersihkan saluran air, serta mengamankan barang-barang penting apabila intensitas hujan tinggi terjadi dalam rentang waktu yang panjang.

“Cuaca bisa berubah cepat, tapi kesiapsiagaan tidak boleh kendor. Informasi sudah tersedia, tinggal bagaimana kita menindaklanjuti untuk keselamatan bersama,” tutupnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id