Bayi Orangutan Ditemukan di Permukiman Warga Kutai Timur, BKSDA Kaltim Lakukan Evakuasi dan Rehabilitasi

Orang Utan yang berhasil dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Conservation Action Network (CAN). (Foto: Istimewa)

Samarinda, Kaltimetam.id – Keberadaan seekor bayi orangutan di tengah permukiman warga Desa Rawa Indah, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menggegerkan masyarakat setempat. Bayi orangutan berjenis kelamin jantan itu ditemukan berada di atas pohon mangga di sekitar rumah warga dan diduga terpisah dari induknya.

Informasi awal mengenai keberadaan satwa dilindungi tersebut diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melalui laporan petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kutai Timur pada pertengahan pekan lalu. Menindaklanjuti laporan itu, tim BKSDA Kaltim segera bergerak ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan.

Setibanya di lokasi, petugas mendapati seekor bayi orangutan berusia sekitar 15 bulan berada di atas pohon dalam kondisi waspada. Kehadirannya sempat membuat warga resah karena perilaku satwa tersebut dinilai cukup agresif, terutama saat didekati manusia.

Tim Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Tenggarong bersama Conservation Action Network (CAN) dan dibantu warga setempat kemudian melakukan upaya penyelamatan. Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati saat bayi orangutan tersebut tertidur di atas pohon mangga.

Sebelum dievakuasi, tim melakukan pemeriksaan fisik awal untuk memastikan kondisi satwa aman dan tidak mengalami luka serius. Setelah dipastikan relatif stabil, bayi orangutan tersebut berhasil diturunkan dan diamankan tanpa menimbulkan risiko bagi warga maupun satwa itu sendiri.

Direktur Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menduga bayi orangutan tersebut terpisah dari induknya sehingga masuk ke area permukiman warga untuk mencari sumber makanan.

“Bayi orangutan ini kemungkinan besar terpisah dari induknya. Dalam kondisi seperti itu, satwa akan berusaha bertahan hidup dengan mencari makanan, salah satunya di pohon buah mangga yang berada di perkarangan warga,” ujarnya.

Menurutnya, kemunculan satwa liar di area permukiman menjadi indikator adanya tekanan habitat, sekaligus menunjukkan naluri bertahan hidup satwa yang masih sangat bergantung pada induknya.

Paulinus juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam melaporkan kejadian serupa kepada pihak berwenang, alih-alih melakukan penanganan sendiri yang berisiko.

“Ini menunjukkan betapa pentingnya call center BKSDA. Jika warga menemukan satwa liar, segera laporkan agar bisa ditangani oleh petugas berkompeten. Penanganan mandiri sangat berisiko, baik bagi manusia maupun satwanya,” jelasnya.

Bayi orangutan tersebut kemudian diberi nama Panji dan saat ini telah dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam yang dikelola oleh CAN. Di lokasi tersebut, Panji menjalani pemeriksaan medis lanjutan serta observasi intensif oleh tim dokter hewan dan tenaga konservasi.

Tim medis akan menentukan langkah penanganan berikutnya berdasarkan hasil observasi, termasuk kemungkinan rehabilitasi jangka panjang hingga pelepasliaran ke habitat alaminya jika kondisi kesehatan dan perilaku Panji dinyatakan memenuhi syarat.

BKSDA Kalimantan Timur mengapresiasi kepedulian dan kerja sama masyarakat Desa Rawa Indah yang memilih melapor kepada pihak berwenang. Kejadian ini dinilai sebagai contoh positif sinergi antara warga dan lembaga konservasi dalam upaya perlindungan satwa liar.

“Respons cepat dan pelaporan resmi jauh lebih aman dibandingkan tindakan sendiri, terutama ketika berhadapan dengan satwa liar yang dilindungi undang-undang,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version