Samarinda, Kaltimetam.id – Pernyataan singkat Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud saat menerima massa aksi pada 21 Mei 2026 masih terus memantik diskusi publik. Kalimat “Silakan Hak Angket!” yang dilontarkan di tengah audiensi bersama demonstran di Kantor Gubernur Kaltim tak hanya menjadi sorotan politik, tetapi juga memunculkan perdebatan mengenai gestur dan bahasa tubuh para pimpinan daerah saat menghadapi tekanan massa.
Di tengah beredarnya berbagai potongan video dan narasi di media sosial yang menuding adanya sikap arogan dari pimpinan daerah, Ahli Linguistik Forensik sekaligus Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Ali Kusno, justru menghadirkan sudut pandang berbeda.
Melalui analisis panjang yang beredar luas di ruang publik, Ali Kusno membedah ekspresi nonverbal Gubernur Rudy Mas’ud, Wakil Gubernur Seno Aji, hingga Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim menggunakan pendekatan Linguistik Forensik, Kinesika Komunikatif, serta Komunikasi Politik.
“Dalam dunia Linguistik Forensik, khususnya subdisiplin Kinesika Komunikatif dan Sosiopragmatik Nonverbal, tubuh punya jalurnya sendiri untuk berkata jujur,” tulisnya.
Ia menjelaskan, dalam situasi tekanan tinggi, seseorang dapat mengalami apa yang disebut psychological leakage atau kebocoran psikologis, yakni ekspresi tubuh yang muncul secara spontan dan sulit direkayasa.
Karena itu, menurutnya, ekspresi nonverbal dalam audiensi tersebut justru menjadi dokumen visual yang sangat kaya untuk membaca dinamika psikologis dan politik yang sedang berlangsung di Kalimantan Timur.
Ali memulai pembacaannya dari sosok Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim yang terlihat duduk tenang dan minim ekspresi saat audiensi berlangsung.
Dalam analisis kinesika forensik, postur tersebut disebut detached observation atau pengamatan berjarak.
Menurutnya, sikap itu menunjukkan posisi birokrasi yang harus tetap menjaga netralitas dan kestabilan administrasi pemerintahan di tengah memanasnya dinamika politik.
“Sebagai panglima tertinggi ASN di daerah, beliau memang secara sosiopragmatik harus bebas dari bias emosional politik praktis,” ucapnya.
Sorotan berikutnya tertuju kepada Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji yang selama ini juga menjadi bahan spekulasi publik.
Sebagian pihak menilai Seno Aji tampak pasif dan tidak banyak memberikan respons selama audiensi berlangsung.
Namun Ali Kusno justru melihat bahasa tubuh Seno Aji memperlihatkan tekanan psikologis yang sangat besar.
Ia menyoroti momen ketika tangan kanan Wagub terlihat menggenggam kuat di atas meja sambil fokus memperhatikan layar ponsel di tangannya.
Dalam kajian forensik komunikasi, kondisi tersebut disebut rhythmic deceleration atau perlambatan ritme gerak akibat tekanan kognitif yang tinggi.
“Ini bukan bentuk pengabaian atau sikap pasif yang menikmati keadaan,” ujarnya.
Di satu sisi, ia merupakan bagian dari pemerintahan Rudy Mas’ud. Namun di sisi lain, sebagian fraksi partai politik yang menjadi pengusung utamanya di DPRD Kaltim justru disebut aktif mendorong Hak Angket terhadap gubernur.
Situasi itu menciptakan apa yang dalam komunikasi politik disebut dual loyalty dilemma atau dilema loyalitas ganda.
“Bahasa tubuh sang Wakil mengirimkan sinyal kuat bahwa beliau berada dalam perahu yang sama dengan gubernur,” jelasnya.
Ali menilai tudingan bahwa Seno Aji menikmati tekanan politik terhadap gubernur tidak memiliki dasar kuat jika dibaca dari ekspresi nonverbalnya.
Sementara itu, perhatian terbesar publik memang tertuju pada sosok Gubernur Rudy Mas’ud yang dianggap paling dominan selama audiensi berlangsung.
Banyak pihak menilai gestur Rudy Mas’ud yang condong ke depan dan menatap langsung massa aksi menunjukkan kesan keras dan arogan.
Menurutnya, dalam psikologi komunikator forensik, seseorang yang merasa takut atau bersalah biasanya akan membangun defensive barrier atau benteng pertahanan dengan cara menjauh, menyilangkan tangan, atau menghindari kontak visual.
“Sebaliknya, Gubernur melakukan manuver yang radikal. Badannya mencondong tegas ke depan, menguasai meja rapat, bergerak mendekat ke arah perwakilan massa,” tulisnya.
Ali menilai gestur tersebut merupakan simbol pasang badan seorang pemimpin yang memilih menghadapi tekanan publik secara langsung.
Ia juga menyoroti momen ketika Rudy Mas’ud tampak menopang dagu sambil mengepalkan tangan di atas meja saat mendengarkan penyampaian aspirasi massa.
Menurutnya, posisi tersebut dikenal dalam kajian kinesika sebagai evaluative-critical pose, yakni gestur seseorang yang sedang mendengarkan dan menganalisis secara serius.
“Pemimpin yang sombong akan memalingkan muka atau menunjukkan ekspresi muak. Gestur bertumpu di dagu ini justru menunjukkan tingkat konsentrasi penuh,” katanya.
Ali juga menilai tatapan mata Rudy Mas’ud yang lurus ke arah kamera bukanlah bentuk tantangan arogan, melainkan simbol kesiapan mempertanggungjawabkan kebijakan pemerintah di hadapan publik.
“Melalui tatapan itu beliau mengirim pesan: saya ada di sini, saya tidak bersembunyi,” ujarnya.
Selain membedah gestur individu, Ali Kusno juga menyoroti formasi duduk Rudy Mas’ud, Seno Aji, dan Sekdaprov yang berada sejajar menghadapi massa aksi.
Menurutnya, posisi tersebut merupakan simbol komunikasi politik yang menunjukkan tanggung jawab kolektif pemerintahan.
“Kehadiran Gubernur yang diapit langsung oleh Wakil Gubernur dan Sekdaprov telah menegaskan bahwa tidak ada celah faksionalisme,” tulisnya.
Ia bahkan menyebut tantangan “Silakan Hak Angket!” sebagai bagian dari strategi komunikasi politik tingkat tinggi yang dikenal dalam teori politik sebagai political brinkmanship atau strategi mendorong situasi hingga titik paling ekstrem untuk memaksa lawan menghitung ulang risikonya.
Meski demikian, Ali Kusno juga memberikan apresiasi terhadap massa aksi yang dinilainya mampu menjaga ketertiban selama demonstrasi berlangsung.
Menurutnya, aksi demonstrasi yang berlangsung damai menunjukkan kedewasaan demokrasi masyarakat Kalimantan Timur.
Ia mengingatkan seluruh pihak, baik legislatif maupun eksekutif, agar tidak terjebak dalam konflik politik berkepanjangan yang justru dapat merugikan masyarakat dan menghambat pembangunan daerah.
“Perseteruan dalam tragedi sosiopolitik tidak akan pernah ada pemenang sejati. Dalam kegaduhan yang destruktif, kalah hanya akan menjadi abu dan menang pun hanya akan menjadi arang,” tutupnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
