Kapolresta Samarinda Ungkap Banyak Aksi Terjun Berhasil Digagalkan, CCTV Dinilai Kunci Pencegahan di Jembatan Mahakam I

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Rentetan peristiwa dugaan bunuh diri yang terjadi di kawasan Jembatan Mahakam I kembali memantik perhatian publik. Dalam beberapa bulan terakhir, jembatan yang menjadi salah satu ikon Kota Samarinda itu berulang kali dikaitkan dengan laporan warga mengenai orang yang diduga hendak mengakhiri hidupnya dengan cara melompat ke Sungai Mahakam.

Fenomena tersebut tidak hanya menjadi persoalan keamanan, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem pengawasan di kawasan jembatan serta pentingnya upaya pencegahan yang melibatkan berbagai pihak.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, mengungkapkan bahwa sejumlah kejadian yang ditangani aparat memiliki pola yang hampir serupa. Dalam beberapa kasus, petugas menemukan surat maupun barang-barang pribadi yang ditinggalkan sebelum seseorang diduga melakukan aksi nekat. Menurutnya, pola tersebut sudah muncul lebih dari sekali sehingga perlu menjadi perhatian bersama, baik oleh aparat penegak hukum, pengelola fasilitas publik, maupun masyarakat luas.

“Polanya hampir sama. Menulis surat dan meninggalkan barang-barang pribadi. Ini sudah beberapa kali terjadi dan tentu menjadi perhatian kami bersama,” ujarnya.

Melihat kejadian yang terus berulang, Polresta Samarinda mendorong adanya penguatan sistem pengawasan di kawasan Jembatan Mahakam I. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penambahan kamera pengawas atau CCTV di sejumlah titik strategis.

Menurut Hendri, keberadaan CCTV tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi setelah kejadian terjadi, tetapi juga dapat menjadi sarana deteksi dini untuk mencegah insiden yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa.

“Kami sudah mengingatkan pihak pengelola agar CCTV diperbanyak sehingga aktivitas di sekitar jembatan bisa lebih mudah dipantau,” katanya.

Ia menjelaskan, melalui pemantauan yang baik, aktivitas mencurigakan dapat diketahui lebih cepat. Misalnya ketika seseorang terlihat berada terlalu lama di atas jembatan, duduk sendirian dalam waktu yang tidak wajar, atau menunjukkan perilaku yang mengarah pada tindakan berbahaya.

“Kalau ada orang yang terlalu lama berada di jembatan, melamun atau duduk sendirian dalam waktu lama, sebenarnya itu bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Kalau terpantau lebih awal, tentu bisa dilakukan tindakan pencegahan,” ucapnya.

Selain penambahan CCTV, Hendri juga menilai penting adanya sistem pemantauan yang aktif dan responsif. Kamera pengawas, menurutnya, tidak akan efektif apabila hanya berfungsi merekam tanpa ada petugas yang melakukan pemantauan secara berkala.

Meski menjadi salah satu titik yang kerap menjadi perhatian, Kapolresta mengakui bahwa kepolisian memiliki keterbatasan untuk melakukan penjagaan secara terus-menerus di kawasan jembatan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membantu mendeteksi potensi kejadian serupa.

Menurut Hendri, warga Samarinda selama ini dikenal memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi. Berbagai informasi yang beredar di lingkungan masyarakat maupun grup komunikasi warga sering kali menjadi sumber awal yang membantu aparat bergerak cepat.

“Kami mengimbau masyarakat, apabila melihat seseorang yang terlalu lama berada di jembatan dalam kondisi mencurigakan atau tidak biasa, segera laporkan. Jangan menunggu sampai terjadi sesuatu,” katanya.

Ia menegaskan bahwa informasi sekecil apa pun dari masyarakat sangat berarti karena dapat memberikan kesempatan kepada petugas untuk melakukan langkah pencegahan sebelum situasi berkembang menjadi lebih serius.

“Kalau ada informasi lebih awal, kami bisa segera datang dan melakukan upaya pencegahan. Itu jauh lebih baik daripada bertindak setelah kejadian terjadi,” tuturnya.

Di balik sejumlah laporan yang muncul ke publik, ternyata ada banyak upaya bunuh diri yang berhasil dicegah aparat kepolisian sebelum berujung tragedi.

Kapolresta Samarinda mengungkapkan bahwa personel Samapta Polresta Samarinda beberapa kali berhasil mengamankan warga yang diduga hendak melakukan aksi nekat di kawasan jembatan maupun lokasi lainnya.

“Sudah berkali-kali anggota kami berhasil mencegah orang yang hendak terjun. Alhamdulillah masih bisa diamankan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Setelah diamankan, mereka tidak langsung dipulangkan. Polisi terlebih dahulu melakukan pendekatan persuasif dan konseling untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi.

Menurut Hendri, Polresta Samarinda memiliki mekanisme pendampingan awal yang melibatkan personel yang telah dibekali kemampuan komunikasi dan konseling dasar.

“Kami berusaha mendengarkan masalah mereka, memberikan nasihat, pemahaman, dan mencoba membantu mereka melihat bahwa tindakan tersebut bukan jalan keluar,” jelasnya.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian kepolisian adalah usia mereka yang diduga hendak melakukan aksi bunuh diri. Dari sejumlah kasus yang berhasil dicegah, sebagian besar melibatkan individu berusia muda dan masih berada pada usia produktif.

“Kebanyakan masih anak muda. Usianya sekitar 20 sampai 30 tahun,” kata Hendri.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa tekanan hidup, persoalan ekonomi, hubungan pribadi, maupun masalah sosial lainnya dapat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang pada usia produktif.

Karena itu, selain memperkuat pengawasan fisik di fasilitas publik seperti jembatan, upaya pencegahan juga perlu dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental serta dukungan sosial bagi mereka yang sedang menghadapi masalah. Bagi kepolisian, keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama. Melalui kolaborasi antara aparat, pengelola fasilitas publik, keluarga, dan masyarakat, diharapkan berbagai potensi tragedi dapat dicegah sebelum terjadi.

“Kami berharap semua pihak bisa ikut peduli. Karena pencegahan bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id