Samarinda, Kaltimetam.id – Kondisi cuaca panas yang melanda Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir memicu meningkatnya kewaspadaan terhadap kemunculan hewan melata, khususnya ular berbisa, di lingkungan permukiman warga. Fenomena ini bahkan telah memakan korban, setelah dua warga dilaporkan mengalami gigitan dan semburan ular kobra dan kini menjalani perawatan di RSUD AW Sjahranie Samarinda.
Ketua Info Taruna Samarinda, Joko Iswanto menyebutkan bahwa perubahan suhu lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong ular keluar dari habitat alaminya.
“Cuaca panas yang terjadi saat ini berpotensi membuat hewan melata, khususnya ular, keluar dari habitatnya dan masuk ke permukiman warga,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi lingkungan yang kering dan panas membuat ular mencari tempat yang lebih sejuk dan memiliki sumber makanan, sehingga tidak jarang masuk ke area pemukiman yang dianggap lebih mendukung.
Kejadian yang menimpa dua warga tersebut menjadi peringatan serius bagi masyarakat. Ular kobra dikenal sebagai salah satu jenis ular berbisa yang berbahaya, tidak hanya melalui gigitan, tetapi juga melalui semburan racun yang dapat membahayakan jika mengenai bagian tubuh tertentu, terutama mata.
“Ini menjadi perhatian bersama karena risiko gigitan ular berbisa dapat mengancam keselamatan warga,” tambahnya.
Dalam situasi ini, peran relawan menjadi sangat penting dalam membantu penanganan dan evakuasi ular yang masuk ke lingkungan masyarakat.
mengimbau para relawan untuk selalu menggunakan perlengkapan keselamatan yang memadai serta tidak bertindak gegabah saat menghadapi ular, terutama yang berbisa.
“Relawan harus mengutamakan keselamatan. Gunakan perlengkapan lengkap dan jangan bertindak tanpa perhitungan saat melakukan evakuasi,” tegasnya.
Selain kepada relawan, imbauan juga ditujukan kepada masyarakat luas agar tidak mencoba menangani ular secara mandiri. Warga diminta segera menghubungi pihak berwenang atau relawan yang memiliki keahlian dalam penanganan hewan liar apabila menemukan ular di sekitar rumah.
Upaya pencegahan juga dinilai penting untuk meminimalisir potensi kemunculan ular di permukiman. Masyarakat diharapkan menjaga kebersihan lingkungan, seperti tidak membiarkan tumpukan barang, kayu, atau semak-semak yang dapat menjadi tempat persembunyian ular.
“Lingkungan yang bersih akan mengurangi potensi ular bersarang di sekitar rumah,” tutupnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







