Potret Kehidupan Fotografer Lepas di Tengah Komunitas Pelari

Ragil (21), fotografer lepas, tengah membidik lensa ke arah pelari di kawasan GOR Kadrie Oening Samarinda. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Ragil, pemuda berusia 21 tahun, setiap hari membawa kameranya menyusuri dua ruang publik populer di Samarinda, yakni Teras Samarinda dan GOR Kadrie Oening, Sempaja.

Ia adalah fotografer lepas yang menjadikan hobi memotret sebagai profesi utama. Dengan perlengkapan kamera profesional senilai puluhan juta rupiah, Ragil memotret momen warga yang tengah berolahraga, khususnya komunitas lari pagi dan sore.

Rutinitasnya cukup teratur. Pada akhir pekan, Ragil biasa membuka jasa foto di Teras Samarinda pada pagi hari, sementara sore harinya ia berpindah ke GOR Kadrie Oening.

“Biasanya sabtu minggu pagi di Teras Samarinda dan sorenya tetap di Gor Kadrie Oening. Saya profesi aslinya emang sebagai fotografer. Jadi memang kalau setiap sore itu setiap hari di sini,” ujarnya, Rabu (10/9/2025).

Meski aktivitasnya terlihat sederhana, Ragil memiliki pelanggan tetap. Beberapa di antaranya sudah terbiasa membeli hasil jepretannya. Namun, tidak semua orang mau difoto. Ada kalanya ia hanya memotret sedikit, bahkan tak jarang menemui orang yang menolak.

“Tergantung orang-orangnya juga. Kadang-kadang ada juga yang nggak mau difoto. Kadang-kadang ada yang mau. Mungkin kalau saya sih, ya, orangnya sih yang itu-itu aja,” katanya.

Dalam sehari, Ragil bisa menghasilkan ratusan bahkan ribuan foto. Namun, jumlah foto yang laku jauh lebih sedikit.

Pada hari biasa, ia hanya menjual sekitar lima hingga delapan foto. Berbeda ketika ada acara atau event olahraga, hasil penjualannya bisa melonjak drastis hingga ratusan lembar.

“Kalau yang lakunya sih paling dikit mungkin lima lah, tujuh, delapan paling dikit. Paling banyak biasanya kalau di acara event, event running biasanya sampai ya paling banyak 300-an foto, 400-an foto, tapi itu dulu, kalau sekarang paling banyak 50-an foto, karena sudah banyak fotografer di mana-mana,” ungkapnya.

Harga foto yang ditawarkan pun bervariasi, bergantung kualitas hasil dan jenis acara. Untuk foto di GOR atau Teras Samarinda, Ragil mematok harga antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per foto. Sedangkan untuk event besar, ia bisa memasang tarif Rp35.000 per foto.

“Kalau saya sih 25.000 paling mahal itu sudah worth it di sini. Kalau di Teras juga 25.000. Kalau event beda harganya lagi 35.000,” jelas Ragil.

Bagi Ragil, pengalaman bertemu banyak orang membuatnya semakin peka membaca gerak tubuh masyarakat. Ia bisa segera mengenali siapa yang ingin difoto dan siapa yang menolak.

Menurutnya, bahasa tubuh sederhana seperti tangan menyilang atau melambaikan tangan sudah cukup menjadi tanda agar ia tidak menekan tombol kamera.

“Biasanya kadang-kadang tangannya itu menyilang gitu loh. Atau enggak tangannya dadah-dadah nggak mau difoto, jadi kita bisa beda kan ini, mana yang mau difoto dan mana yang nggak mau difoto,” ucapnya.

Sejauh ini, Ragil bekerja sepenuhnya sebagai fotografer lepas tanpa memiliki studio khusus. Untuk mempermudah pelanggan menemukan hasil jepretannya, ia mengandalkan aplikasi FotoYu.

Melalui teknologi pengenalan wajah otomatis bernama RoboYu, setiap pelanggan dapat langsung menemukan foto mereka sendiri tanpa harus memilah ratusan gambar yang ia unggah.

Pendapatan Ragil memang tidak selalu besar. Namun, menurutnya, penghasilan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Apalagi, lokasi Teras Samarinda menjadi tempat favorit karena ramainya pelari yang rutin menempuh jalur long run hingga ke tepian Mahakam.

“100 ribu udah lumayan. Kecuali di teras, teras beda lagi. Mungkin 200 ribu,” tutupnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id