Samarinda, Kaltimetam.id – Suasana peresmian Proyek Strategis Nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kota Balikpapan, Senin (12/1/2026), sempat berubah serius setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan teguran terbuka kepada panitia penyelenggara acara. Teguran tersebut berkaitan dengan penempatan posisi duduk tamu undangan yang dinilai tidak sesuai dengan etika keprotokolan kenegaraan.
Peristiwa itu terjadi sesaat sebelum Presiden Prabowo memulai rangkaian acara peresmian. Saat menatap area undangan, perhatian Presiden tertuju pada barisan kursi belakang, di mana Sultan Kutai Kartanegara, Aji Muhammad Arifin, terlihat duduk. Menyadari hal tersebut, Prabowo secara spontan menyampaikan interupsi di hadapan para menteri kabinet, pejabat daerah, serta jajaran pimpinan PT Pertamina yang hadir.
“Hadir Yang Mulia. Sultan kok ditaro di belakang? Harusnya di depan, bukan di belakang,” ujar Presiden Prabowo dengan nada tegas.
Teguran tersebut seketika membuat suasana ruangan hening. Panitia pun segera melakukan penyesuaian tata tempat duduk sesuai arahan Presiden. Momen itu menjadi sorotan para tamu undangan karena disampaikan secara terbuka di tengah agenda kenegaraan berskala nasional.
Bagi Presiden Prabowo, persoalan penempatan tamu undangan bukan sekadar urusan teknis atau tata ruang acara. Lebih dari itu, hal tersebut mencerminkan nilai penghormatan, adab, serta tata krama dalam penyelenggaraan kegiatan kenegaraan. Presiden menekankan bahwa tokoh adat dan simbol sejarah daerah memiliki posisi terhormat yang harus dihargai, terlebih ketika negara hadir di wilayah yang memiliki akar budaya kuat.
Tindakan Presiden tersebut dipandang sebagai pesan tegas bahwa pembangunan nasional, termasuk proyek strategis di sektor energi, tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Modernisasi industri, menurut Presiden, harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap tradisi dan tokoh masyarakat yang menjadi bagian dari sejarah bangsa.
Pengamat menilai, sikap Presiden Prabowo tersebut menunjukkan gaya kepemimpinan yang menaruh perhatian besar pada etika dan simbol-simbol kebangsaan. Teguran terbuka itu sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh penyelenggara acara kenegaraan agar lebih cermat dalam menyusun daftar prioritas tamu kehormatan dan menerapkan protokol secara tepat.
Peresmian proyek RDMP Balikpapan sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kualitas pengolahan kilang minyak dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
Meski agenda utama acara adalah peresmian proyek strategis tersebut, momen teguran Presiden justru menjadi perhatian tersendiri. Hal itu menegaskan bahwa bagi kepala negara, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga dari cara negara menjaga etika, menghormati budaya, serta menempatkan nilai-nilai kebangsaan sebagai fondasi utama dalam setiap kebijakan dan kegiatan resmi.
Teguran Presiden Prabowo di Balikpapan pun menjadi pelajaran penting bagi seluruh panitia dan pemangku kepentingan agar ke depan lebih teliti, sensitif, dan beretika dalam setiap penyelenggaraan acara kenegaraan, seiring dengan terus bergulirnya agenda besar pembangunan nasional. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







