Satlantas Samarinda Terapkan Sistem Buka-Tutup Mahakam IV Dini Hari, Kontainer 40 Feet Alami Kendala Tikungan Sempit

Kanit Turjawali Satlantas Polresta Samarinda, Iptu Ismail Marzuki. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Rekayasa lalu lintas di Kota Samarinda masih terus diberlakukan menyusul pembatasan kendaraan berat di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Pada Jumat (30/1/2026) dini hari, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Samarinda menerapkan sistem buka-tutup di Jembatan Mahakam IV sebagai jalur alternatif utama bagi kendaraan logistik bertonase besar.

Kebijakan ini dilakukan untuk mengakomodasi arus distribusi barang dan angkutan peti kemas yang terdampak larangan melintas bagi kendaraan roda enam ke atas di Jembatan Mahulu. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama instansi terkait saat ini masih melakukan pemeriksaan geometrik dan uji beban struktur Mahulu pasca insiden tabrakan tongkang yang terjadi berulang kali.

Kanit Turjawali Satlantas Polresta Samarinda, Iptu Ismail Marzuki, mengatakan hingga pukul 01.24 WITA rekayasa lalu lintas masih berlangsung di sejumlah titik.

“Kami pantau malam ini dari Satlantas Polresta Samarinda. Berdasarkan laporan di sejumlah titik di dalam kota, hingga saat ini masih diberlakukan rekayasa lalu lintas di beberapa lokasi,” ujarnya.

Menurut Ismail, sistem buka-tutup Jembatan Mahakam IV masih diterapkan berdasarkan perintah langsung Kasat Lantas Polresta Samarinda.

“Berdasarkan perintah langsung dari Kasat Lantas, masih kita berlakukan buka-tutup Jembatan Mahakam IV,” jelasnya.

Dalam skema tersebut, kendaraan berat dengan muatan sekitar 20 ton masih diperbolehkan melintas melalui jalur yang telah ditentukan. Namun petugas masih melakukan simulasi dan evaluasi lapangan untuk memastikan rekayasa berjalan efektif.

“Kendaraan dengan muatan sekitar 20 ton masih diperbolehkan melintas. Saat ini kami masih melakukan simulasi terhadap pergerakan kendaraan,” katanya.

Ismail mengungkapkan, kendala terbesar dalam pelaksanaan rekayasa ini terjadi pada kendaraan kontainer berukuran 40 feet. Ukuran kendaraan yang panjang membuatnya kesulitan saat melewati tikungan sempit menuju arah Kompi.

“Rata-rata kontainer 40 feet mengalami kesulitan saat melintas, khususnya di tikungan menuju arah Kompi, karena kondisi tikungan yang tidak lurus sehingga kendaraan tidak bisa berpapasan,” ungkapnya.

Selain itu, lebar jalan yang tersedia saat ini dinilai belum sepenuhnya mendukung pergerakan kendaraan besar dengan panjang 40 feet.

“Lebar jalan yang ada saat ini belum menyesuaikan untuk kontainer 40 feet. Untuk kontainer 20 feet masih dapat melintas,” tambahnya.

Untuk mengatasi situasi tersebut, Satlantas menerapkan sistem buka-tutup bergiliran selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, jalur dibuka kembali sambil memantau kondisi arus lalu lintas.

“Kami melakukan simulasi dengan sistem buka-tutup selama kurang lebih 15 menit, kemudian dibuka kembali sambil melihat situasi dan kelancaran arus lalu lintas,” tuturnya.

Memasuki pukul 02.00 WITA, kondisi lalu lintas di dalam kota terpantau relatif lengang dengan kepadatan yang kecil. Antrean kendaraan besar yang menunggu giliran menyeberang terlihat hingga sekitar kawasan Masjid Karang Asam.

“Antrean kendaraan besar hanya terlihat sampai sekitar Masjid Karang Asam,” katanya.

Namun dari arah seberang, kepadatan mulai meningkat karena banyak kendaraan besar dari luar kota yang hendak masuk ke Samarinda.

“Dari arah seberang, kepadatan mulai meningkat, terutama kendaraan besar dari luar kota yang hendak masuk ke Kota Samarinda,” tambahnya.

Untuk mendukung pengamanan dan pengaturan lalu lintas, Satlantas menerjunkan personel gabungan. Sebanyak delapan personel Satlantas dibantu Dishub Provinsi, Dishub Kota, serta dukungan dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI).

“Malam ini kami menerjunkan personel gabungan dari Satlantas ada delapan personel dibantu Dishub Provinsi, Dishub Kota, serta didukung ALFI,” ujarnya.

Satlantas Polresta Samarinda juga mengimbau masyarakat agar menghindari aktivitas penyeberangan pada malam hari selama pembatasan Mahulu masih berlangsung. Hal ini karena kendaraan besar masih diarahkan melintas melalui Mahakam IV.

“Kami mengimbau kepada masyarakat, selama Jembatan Mahakam Ulu masih dilakukan pembatasan dan dalam proses penanganan oleh Dinas PUPR, agar aktivitas penyeberangan tidak dilakukan pada malam hari,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id