Pelindo Ambil Langkah Tegas Usai Insiden di Sungai Mahakam, Petugas Pandu Diskors Sementara

General Manager Pelindo Regional 4 Samarinda, Capt. Suparman. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Insiden kapal pengangkut crude palm oil (CPO) yang menyenggol pelindung pilar (fender) Jembatan Mahakam I pada awal Maret lalu menjadi perhatian serius pengelola pelabuhan di Samarinda. Peristiwa tersebut mendorong PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 4 Samarinda untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem operasional dan pengawasan pelayaran di Sungai Mahakam.

General Manager Pelindo Regional 4 Samarinda, Capt. Suparman, menegaskan bahwa pihaknya langsung melakukan evaluasi internal segera setelah kejadian tersebut. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab insiden sekaligus memperkuat sistem keselamatan pelayaran.

“Setelah kejadian itu, kami langsung melakukan evaluasi terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan di lapangan, termasuk prosedur pemanduan kapal,” ujarnya.

Sebagai bagian dari langkah awal, petugas pandu yang bertugas saat insiden berlangsung telah dikenai sanksi skorsing sementara. Kebijakan ini diambil sambil menunggu hasil investigasi resmi dari Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda.

Menurut Suparman, hingga kini penyebab pasti kejadian masih dalam proses pendalaman. Sejumlah faktor masih dikaji, mulai dari kemungkinan kelalaian petugas, kesalahan manusia (human error), hingga kondisi cuaca dan faktor teknis lainnya.

“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari KSOP. Nantinya, keputusan lanjutan akan ditentukan berdasarkan rekomendasi resmi dari hasil investigasi tersebut,” jelasnya.

Di tengah proses penyelidikan yang berjalan, Pelindo juga bergerak melakukan langkah-langkah preventif guna mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang. Penguatan sistem pengawasan menjadi fokus utama, terutama di kawasan bawah Jembatan Mahakam I yang merupakan titik krusial jalur pelayaran.

Sejumlah upaya yang disiapkan meliputi pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik strategis, penggunaan kapal assist untuk membantu manuver kapal besar, serta penerapan sistem sensor peringatan dini di area jembatan.

Sensor tersebut dirancang untuk mendeteksi pergerakan kapal yang keluar dari jalur aman. Jika terjadi penyimpangan, sistem akan memberikan peringatan berupa lampu sebagai sinyal bagi operator maupun nakhoda kapal.

Tak hanya itu, Pelindo juga memasang alat pengukur arus di bawah jembatan, baik di kawasan Jembatan Mahakam I maupun Jembatan Mahakam Ulu. Alat ini berfungsi memantau kondisi arus sungai secara real-time yang dapat memengaruhi pergerakan kapal.

Sungai Mahakam sendiri dikenal memiliki lalu lintas pelayaran yang cukup padat, terutama oleh kapal-kapal pengangkut komoditas seperti batu bara dan minyak sawit. Kondisi arus yang dinamis turut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keselamatan navigasi.

Insiden yang terjadi pada Minggu malam (8/3/2026) tersebut sempat terekam oleh warga dan videonya beredar luas di media sosial. Dalam rekaman, terlihat kapal menyenggol bagian fender jembatan, sehingga memicu kekhawatiran masyarakat terkait keamanan struktur jembatan.

Meski demikian, hingga saat ini tidak ada laporan kerusakan signifikan pada bagian utama Jembatan Mahakam I. Pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi jembatan tetap aman digunakan sebagai jalur transportasi utama.

Pelindo menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan KSOP dan instansi terkait dalam meningkatkan standar keselamatan pelayaran. Evaluasi yang dilakukan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam membangun sistem transportasi perairan yang lebih aman dan terintegrasi. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id