Masuk Tahap Asistensi, Perbaikan Sekolah Rawan Bencana Diusulkan 2026

SMP Negeri 24 Samarinda merupakan salah satu sekolah yang sering terdampak banjir disaat hujan deras. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Ancaman banjir dan longsor yang berulang di sejumlah kawasan Kota Samarinda kini menjadi perhatian serius sektor pendidikan. Pemerintah kota melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mulai memetakan sekolah-sekolah yang berada di zona rawan bencana untuk mendapat penanganan fisik pada tahun anggaran 2026.

Langkah ini bukan semata soal perbaikan bangunan, melainkan upaya menjaga keselamatan peserta didik sekaligus memastikan proses belajar mengajar tidak terus terganggu akibat faktor lingkungan yang berisiko.

Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah mengajukan usulan rehabilitasi sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan akibat longsor maupun genangan banjir yang kerap terjadi saat hujan deras.

Usulan tersebut masih melalui tahap asistensi bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Samarinda, yang akan menentukan kelayakan program sekaligus menyesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah.

“Hari ini baru mulai asistensi. Untuk angka pastinya seperti apa nanti di 2026, saya juga belum bisa memastikan karena itu masih dibahas bersama Bapperida,” ujar Asli, Kamis (29/1/2026).

Ia menegaskan, proses ini penting agar alokasi anggaran benar-benar diarahkan ke sekolah yang tingkat kerusakannya paling mendesak dan berpotensi mengganggu keselamatan warga sekolah.

Dalam daftar awal perencanaan 2026–2027, beberapa sekolah telah masuk radar prioritas. SMP Negeri 27 Samarinda menjadi salah satu yang mendapat perhatian khusus akibat dampak longsor, sementara sekolah-sekolah lain seperti SMP Negeri 24 Samarinda, SD Negeri 013 Samarinda Ulu, serta SD Negeri 021 yang berada di sekitar RSUD Abdul Wahab Sjahranie kerap menghadapi persoalan banjir.

Menurut Asli, kondisi geografis dan lingkungan di lokasi-lokasi tersebut menuntut penanganan fisik yang tidak bisa ditunda terlalu lama agar fasilitas pendidikan tetap layak dan aman digunakan.

Meski demikian, Disdikbud mengakui persoalan infrastruktur tidak hanya dialami oleh sekolah-sekolah yang terdampak bencana.

Masih terdapat banyak satuan pendidikan lain di Samarinda yang juga membutuhkan perbaikan, namun harus ditangani secara bertahap sesuai skala urgensi.

“Yang kami sampaikan ini memang beberapa contoh yang paling mendesak. Tapi tentu masih ada sekolah lain yang juga perlu perhatian. Semua akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran nanti,” jelasnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id