Kejar Target 100 Persen, Layanan Air Bersih di Kawasan Perbukitan Samarinda Masih Hadapi Kendala Teknis

Instalasi pengolahan air bersih di Perumdam Tirta Kencana Samarinda. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Upaya pemenuhan layanan air bersih secara menyeluruh di Kota Samarinda masih menghadapi tantangan, terutama di wilayah dengan kontur geografis berbukit.

Kawasan dataran tinggi seperti Gunung Manggah dan Gunung Steling menjadi contoh wilayah yang hingga kini belum sepenuhnya terlayani optimal.

Kondisi ini menjadi perhatian dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ), mengingat target cakupan layanan air bersih ditetapkan mencapai 100 persen pada tahun 2029.

Dengan kondisi geografis yang tidak merata, diperlukan strategi khusus agar distribusi air tetap dapat menjangkau seluruh wilayah.

Anggota Pansus LKPJ DPRD Samarinda, Ismail Latisi, menilai persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan biasa.

Ia menekankan pentingnya solusi teknis yang tepat, terutama untuk wilayah dengan elevasi tinggi yang memiliki risiko berbeda dibanding daerah dataran rendah.

“Kalau air mau naik ke sana bisa, cuma risikonya pipa di bawah bisa pecah karena dipaksa. Sementara target 2029 itu 100 persen, berarti wilayah gunung juga harus ada solusinya,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, percepatan cakupan layanan harus dibarengi dengan perencanaan yang matang, agar tidak menimbulkan persoalan baru pada infrastruktur yang sudah ada.

Ia pun mendorong Perumdam Tirta Kencana untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman dalam jangka panjang.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Nor Wahid Hasyim, mengakui bahwa tantangan distribusi air di wilayah perbukitan memang masih menjadi pekerjaan rumah.

Secara umum, capaian layanan saat ini telah berada di angka 84 persen, namun belum merata di seluruh wilayah.

“Secara umum pelayanan sudah 84 persen, tapi memang ada beberapa titik seperti Gunung Manggah dan Gunung Steling yang masih terkendala karena posisinya tinggi,” jelasnya.

Ia menerangkan, distribusi air ke daerah dengan elevasi tinggi tidak bisa dilakukan dengan menambah tekanan dari jarak jauh, karena berisiko merusak jaringan pipa di bagian bawah.

Solusi yang paling memungkinkan, lanjutnya, adalah pembangunan fasilitas booster atau pompa tambahan di titik terdekat agar tekanan air dapat didistribusikan secara bertahap.

“Kalau dari jauh ditambah tekanannya, pipa tidak kuat dan bisa pecah. Jadi harus pakai booster di kaki gunung,” ungkapnya.

Namun, rencana tersebut juga menghadapi kendala lain, yakni keterbatasan lahan untuk pembangunan fasilitas pendukung tersebut.

Hingga kini, pihak Perumdam masih berupaya mencari lokasi yang memungkinkan untuk merealisasikan solusi tersebut.

“Sudah kami minta tempat, tapi belum ada yang bersedia,” katanya.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, Perumdam memastikan tetap berupaya mencari alternatif lain, termasuk melalui peningkatan jaringan pipa dan dukungan dari usulan program melalui DPRD.

“Target 100 persen tetap kami upayakan, meski memang ada kendala teknis di lapangan,” tutupnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id