Samarinda, Kaltimetam.id – Dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan seorang oknum guru di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Samarinda kembali menjadi perhatian publik. Kasus yang disebut telah mencuat sejak beberapa waktu lalu itu dinilai belum menunjukkan perkembangan penanganan yang jelas, sehingga memicu desakan dari berbagai pihak agar ada langkah tegas dari instansi terkait.
Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) menyatakan akan menggelar aksi damai sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap isu perlindungan anak sekaligus mendorong transparansi dalam penanganan kasus tersebut.
Tim Hukum TRC PPA Sudirman mengatakan aksi damai itu direncanakan berlangsung di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda pada Senin, 9 Maret 2026. Pihaknya juga telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada kepolisian terkait rencana kegiatan tersebut. Menurutnya, aksi tersebut bertujuan untuk menyuarakan keprihatinan masyarakat atas dugaan tindakan kekerasan seksual yang melibatkan tenaga pendidik terhadap sejumlah siswi di sekolah tersebut.
“Aksi ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap dugaan kekerasan seksual yang melibatkan oknum guru terhadap sejumlah siswi. Kami berharap ada kejelasan penanganan dan tindakan tegas terhadap kasus ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dugaan peristiwa yang dilaporkan tidak hanya sebatas komunikasi yang mengarah pada praktik grooming, tetapi juga disebut telah mengarah pada dugaan tindakan persetubuhan terhadap korban.
Para korban yang disebut dalam laporan tersebut diketahui masih berusia belasan tahun dan pada saat peristiwa terjadi masih berstatus sebagai siswi aktif di sekolah yang bersangkutan.
Menurut Sudirman, kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut perlindungan anak di lingkungan pendidikan, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi para pelajar untuk belajar dan berkembang.
“Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Ketika muncul dugaan seperti ini, tentu perlu ada langkah penanganan yang jelas dan transparan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dalam aksi damai tersebut, sejumlah elemen masyarakat direncanakan turut berpartisipasi untuk menyuarakan dukungan terhadap para korban serta mendorong penanganan kasus secara serius.
Selain itu, beberapa pihak yang selama ini memberikan pendampingan kepada korban juga dijadwalkan hadir untuk menyampaikan aspirasi terkait pentingnya perlindungan terhadap anak di lingkungan pendidikan.
Menurut Sudirman, aksi tersebut juga bertujuan untuk mendorong pihak terkait agar memberikan penjelasan kepada publik mengenai perkembangan penanganan perkara.
“Isu utama yang kami angkat adalah dugaan kekerasan seksual di lingkungan sekolah tersebut. Kami berharap ada kejelasan langkah yang diambil oleh pihak terkait,” tutupnya.
Sementara itu, hingga kini pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus yang dimaksud.
Upaya konfirmasi kepada pihak Disdik Kaltim telah dilakukan untuk meminta penjelasan mengenai langkah yang diambil terhadap dugaan kasus tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan yang diberikan. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







