Jelang Penghujung Tahun, Kaltim Bersiap Hadapi Ancaman Banjir

Ilustrasi banjir di Kota Samarinda. (Foto: Istimewa)

Samarinda, Kaltimetam.id – Memasuki akhir tahun, kekhawatiran terhadap potensi bencana kembali mencuat di Kalimantan Timur. Cuaca yang mulai tidak menentu sejak November kini mengarah pada puncak musim hujan di Desember 2025, membuat pemerintah daerah mengambil langkah antisipasi lebih awal.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menjadi salah satu pihak yang kembali mengingatkan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa curah hujan yang diprediksi meningkat perlu disikapi dengan kewaspadaan, terutama di wilayah yang punya riwayat genangan dan banjir.

Peringatan tersebut selaras dengan informasi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) APT Pranoto Samarinda. Pada awal Desember, BMKG telah menandai adanya peningkatan potensi bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.

Di sela agenda kerjanya, Seno Aji menyampaikan bahwa pemerintah provinsi tidak tinggal diam menghadapi kondisi ini.

“Saya telah menjadwalkan pertemuan dengan BPBD untuk membahas potensi curah hujan tinggi pada bulan ini. Hasil pembahasan akan kami informasikan lebih lanjut,” ujarnya, Rabu (3/12/2025).

Ia menambahkan, tingginya intensitas hujan berpotensi memengaruhi daerah-daerah rawan banjir yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Karena itu, koordinasi antarpemerintah daerah ia minta diperkuat, mulai dari pemantauan sungai hingga kesiapan jalur evakuasi jika cuaca ekstrem benar terjadi.

“Warga diharapkan tetap waspada. Sebelum hujan lebat terjadi, upayakan mencari lokasi yang lebih aman. Pemerintah akan terus memberikan edukasi terkait langkah antisipasi bencana,” terangnya.

Data prakiraan 10 hari pertama Desember menunjukkan sebagian besar wilayah Kaltim berpotensi diguyur hujan kategori menengah, yakni 50–150 milimeter (mm), dengan peluang hujan lebih dari 70 persen.

Beberapa wilayah barat seperti Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan bagian barat Kutai Timur—diprediksi menerima curah hujan lebih tinggi, mencapai 150–300 mm.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai dampak: meluapnya sungai, genangan air di jalan raya, longsor di daerah perbukitan, hingga pohon tumbang akibat angin kuat dan sambaran petir. Peringatan dini pun kembali ditegaskan, agar masyarakat tidak lengah menjelang puncak musim hujan di akhir tahun. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version