Samarinda, Kaltimetam.id – Suasana khidmat dan penuh sukacita menyelimuti ibadah peringatan Kenaikan Yesus Kristus di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Temindung Jemaat Haleluya, Jalan Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Kamis (14/5/2026) pagi.
Ratusan jemaat mengikuti kebaktian yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 10.00 Wita tersebut dengan penuh penghayatan. Momentum peringatan Kenaikan Yesus Kristus tahun ini dimaknai bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga pengingat bagi umat Kristen untuk terus aktif dalam menjalankan pelayanan dan menyebarkan kasih Tuhan di tengah kehidupan masyarakat.
Pendeta Muda (Pdm.) Samuel Goodman Siagian mengatakan ibadah tersebut menjadi momen refleksi bagi jemaat untuk memahami makna kenaikan Yesus Kristus ke surga sekaligus memperkuat panggilan iman sebagai pengikut Kristus.
“Kita tadi memaknai dan sekaligus merefleksikan bagaimana kenaikan Yesus ke surga,” ujarnya usai ibadah.
Menurut Samuel, salah satu pesan utama yang ditekankan dalam khotbah adalah agar umat Kristen memiliki tujuan hidup yang sama seperti ajaran Kristus, yakni aktif memberitakan firman Tuhan dan melanjutkan karya pelayanan yang telah dilakukan Yesus selama hidup di bumi.
“Karena kenaikan Yesus juga dia menyuruh dan memerintahkan untuk kita anak-anaknya aktif memberitakan firman Tuhan, melanjutkan apa yang sudah dilakukan-Nya di bumi setelah Ia naik,” katanya.
Ia berharap melalui peringatan Kenaikan Yesus Kristus, umat Kristen tidak hanya menjalankan ibadah secara rutin, tetapi juga semakin aktif dalam kehidupan pelayanan dan membawa kasih Tuhan kepada sesama.
“Harapannya melalui ibadah ini semua orang Kristen aktif dalam menjalankan ibadahnya,” ucapnya.
Dalam khotbah yang disampaikan kepada jemaat, Samuel menekankan tiga poin utama yang menjadi refleksi peringatan Kenaikan Yesus Kristus.
Pertama, umat Kristen diminta tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, tetapi juga memiliki kepedulian untuk membagikan firman Tuhan kepada orang lain.
“Pandangan umat Kristen tidak boleh hanya kepada diri pribadi saja. Keselamatan itu juga harus kita sebarkan dan ajarkan,” katanya.
Menurutnya, firman Tuhan tidak boleh berhenti hanya pada diri sendiri, melainkan harus terus diteruskan kepada masyarakat luas.
Poin kedua yang ditekankan dalam khotbah adalah keberanian dalam menjalankan iman dan pelayanan.
Samuel mengingatkan jemaat agar tidak takut menghadapi tantangan dalam memberitakan firman Tuhan karena umat percaya meyakini Yesus sebagai Raja yang memegang kuasa atas kehidupan.
“Kita tidak boleh takut dalam memberitakan firman. Apa pun tantangan dan rintangannya, kita harus ingat bahwa yang pegang kuasa adalah Yesus,” tuturnya.
Sementara poin ketiga adalah ajakan agar umat Kristen tidak bersikap pasif dalam kehidupan rohani maupun pelayanan gereja.
“Kita juga harus aktif, tidak boleh pasif,” tegasnya.
Selain menjadi peringatan Kenaikan Yesus Kristus yang jatuh 40 hari setelah Paskah, ibadah tersebut juga menjadi awal persiapan jemaat menuju Hari Pentakosta yang diperingati 10 hari setelah Kenaikan Yesus.
Samuel menjelaskan, dalam tradisi gereja Pantekosta, momentum tersebut dimaknai sebagai masa penantian pencurahan Roh Kudus seperti yang dialami murid-murid Yesus pada masa awal kekristenan.
“Sepuluh hari ke depan ada yang disebut Hari Pentakosta, yaitu Hari Pencurahan Roh Kudus,” jelasnya.
Karena itu, jemaat GPdI Temindung Jemaat Haleluya akan melaksanakan doa bersama selama 10 malam sebagai bentuk persiapan rohani menyambut Hari Pentakosta.
“Kami sama-sama berdoa supaya disegarkan kembali dengan kuasa Roh Kudus,” katanya.
Selain doa bersama, sebagian jemaat juga melaksanakan puasa sebagai bentuk penguatan spiritual dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menurut Samuel, puasa menjadi sarana untuk menahan diri dan memperdalam hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
“Ketika kita berpuasa diselingi dengan doa itu lebih baik karena kita betul-betul mengikis daging dan lebih intim dengan Tuhan,” tambahnya.
Ia berharap seluruh rangkaian ibadah dan doa yang dilakukan mampu memperkuat iman jemaat serta membangkitkan kembali semangat pelayanan mereka.
“Harapannya jemaat dapat di-refresh kembali, di-recharge kembali pemikiran, semangat dan mental mereka sebagai pejuang-pejuang Kristus,” tutupnya.
Sementara itu, salah satu jemaat GPdI Temindung Jemaat Haleluya, Iswanto, mengaku merasakan sukacita dan penguatan iman setelah mengikuti ibadah peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Menurutnya, firman Tuhan yang disampaikan dalam ibadah memberikan pengaruh besar dalam kehidupan spiritual jemaat.
“Firman itu membentuk karakter dalam kehidupan kami, membentuk iman kami supaya kami lebih dekat dan lebih takut kepada Tuhan,” ujarnya.
Ia mengatakan sebagai umat Kristen, kesetiaan kepada Tuhan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus setia kepada Tuhan karena Tuhan itulah sumber kehidupan, sumber pertolongan, dan sumber segala dalam kehidupan kita,” katanya.
Iswanto juga meyakini bahwa kehidupan rohani yang kuat akan membawa sukacita, kedamaian dan kekuatan bagi setiap orang percaya.
“Ada sukacita, ada kedamaian, ada kemenangan dalam kehidupan kita,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







