Dinkes Kaltim Ingatkan Bahaya Penanganan Tradisional Gigitan Ular, Edukasi Relawan Jadi Kunci Keselamatan Korban

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaltim, Fitnawati. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Penanganan hewan berbahaya di Samarinda mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah melalui kegiatan sosialisasi yang digelar Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) bekerja sama dengan Info Taruna Samarinda (ITS) dan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan ini difokuskan pada penanganan gigitan ular berbisa, termasuk prosedur evakuasi hingga pertolongan medis awal bagi korban.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaltim, Fitnawati, menekankan pentingnya edukasi yang tidak hanya ditujukan bagi tenaga medis, tetapi juga relawan lapangan yang sering menjadi garda pertama dalam menghadapi kasus gigitan ular.

“Kita ingin relawan paham bagaimana menangani korban dengan benar. Penanganan awal yang tepat bisa menentukan keselamatan pasien,” ujarnya usai pelatihan di Aula Posko 1 Damkar Samarinda, Jalan Mulawarman, Jumat (03/04/2026).

Sosialisasi ini menjadi momen penting mengingat selama ini banyak kesalahan penanganan yang dilakukan masyarakat, seperti penggunaan air panas atau ramuan tradisional, yang justru dapat memperparah kondisi luka. Fitnawati menekankan, prosedur yang tepat dimulai dengan imobilisasi anggota tubuh yang digigit dan segera membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Pemberian anti-venom tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus melalui tahapan medis dan pemeriksaan ketat,” jelasnya.

Selain edukasi medis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi. Tim gabungan dari Damkar, BPBD, dan Dinkes Kaltim mempraktikkan teknik evakuasi ular berbisa serta penanganan awal korban. Fitnawati memastikan, pihaknya siap 24 jam jika terjadi kasus mendesak, termasuk mengantar serum anti-venom ke rumah sakit kapan pun dibutuhkan.

“Koordinasi ini penting agar tidak ada lagi korban yang mengalami keterlambatan penanganan. Tim kami siap menindaklanjuti setiap laporan,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa sosialisasi ini juga menekankan langkah preventif, seperti identifikasi jenis ular berbahaya dan pemahaman karakteristiknya untuk mengurangi risiko.

Kegiatan yang diikuti puluhan relawan ini mendapat respons positif dari peserta. Mereka dilatih untuk menangani kondisi darurat dengan aman dan tepat, termasuk mengenali tanda-tanda gigitan ular berbisa serta prosedur pertolongan pertama. Diharapkan, kompetensi ini akan meningkatkan kesiapsiagaan di lapangan, baik dalam kasus individual maupun skala komunitas.

“Kami ingin masyarakat lebih sadar dan tidak panik menghadapi kasus gigitan ular. Penanganan awal yang tepat, serta cepat, adalah kunci keselamatan,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id