Samarinda, Kaltimetam.id – Isu pergantian Direktur Utama Bankaltimtara tak hanya dipersoalkan dari sisi prosedur, tetapi juga dikaitkan dengan kinerja perusahaan daerah tersebut.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pun menilai, keputusan yang diambil tidak terlepas dari evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bank.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyebut, penurunan kinerja menjadi salah satu faktor yang ikut dipertimbangkan.
Ia menyoroti turunnya kontribusi deviden Bankaltimtara pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun 2025 deviden kita turun cukup signifikan. Target dalam APBD Rp338 miliar, realisasinya hanya Rp191 miliar,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (30/3/2026).
Menurut Rudy, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap keuangan daerah. Penurunan deviden membuat pemerintah harus melakukan penyesuaian anggaran, bahkan mengubah perencanaan yang sebelumnya telah disusun.
“Kalau biasanya ada tambahan, sekarang justru berkurang. Ini tentu memengaruhi program-program daerah,” jelasnya.
Selain faktor kinerja, ia juga menyinggung adanya persoalan serius yang tengah menjadi perhatian, termasuk dugaan kasus yang berkaitan dengan pengelolaan dana dalam jumlah besar.
Hal ini, kata dia, tidak bisa diabaikan mengingat Bankaltimtara merupakan lembaga keuangan yang mengelola dana masyarakat.
“Ini menyangkut uang daerah dan masyarakat, jadi harus benar-benar dijaga,” tegasnya.
Terkait proses pergantian Direktur Utama yang dinilai mendadak, Rudy memastikan mekanisme yang dilakukan telah melalui tahapan yang berlaku.
Seleksi dilakukan secara terbuka melalui panitia seleksi (pansel) dan melibatkan lembaga otoritas.
“Kita sudah buka kesempatan seluas-luasnya. Semua bisa mendaftar selama memenuhi kualifikasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses seleksi tidak dilakukan sembarangan. Penilaian didasarkan pada kompetensi, profesionalitas, serta integritas para kandidat.
Hasil seleksi kemudian diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum ditetapkan secara resmi.
Nama-nama calon yang lolos uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) memang menuai sorotan, terutama karena berasal dari luar Kalimantan Timur.
Namun Rudy menilai hal tersebut merupakan konsekuensi dari proses seleksi terbuka.
“Kalau memang putra daerah ada dan memenuhi syarat, tentu bisa lolos. Tapi dalam proses seleksi, ada yang gugur,” katanya.
Di sisi lain, percepatan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang turut dipertanyakan publik disebut memiliki sejumlah pertimbangan.
Meski demikian, Rudy mengakui tidak semua alasan dapat disampaikan secara terbuka.
Pergantian pucuk pimpinan Bankaltimtara ini pun menjadi perhatian publik, tidak hanya terkait transparansi proses, tetapi juga harapan terhadap perbaikan kinerja ke depan. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







