Samarinda, Kaltimetam.id – Sejumlah relawan dari wilayah Loa Janan dan Loa Janan Ilir mendatangi Rumah Sakit IA Moeis di Jalan HM Rifaddin, Samarinda Seberang, Selasa malam (24/3/2026).
Kedatangan mereka bertujuan untuk meminta klarifikasi terkait dugaan penolakan pasien korban kecelakaan lalu lintas (laka) yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Aksi tersebut dipicu oleh beredarnya informasi mengenai penanganan korban kecelakaan yang terjadi pada Selasa sore sekitar pukul 16.30 Wita di kawasan Kilometer 15. Dalam kejadian itu, korban dilaporkan mengalami luka berat, bahkan disebut mengalami putus pada bagian kaki.
Ketua Gabungan Relawan Loa Janan dan Loa Janan Ilir, Idi, mengatakan bahwa pihaknya merasa perlu mencari kepastian informasi secara langsung, mengingat RS IA Moeis merupakan fasilitas kesehatan terdekat dari lokasi kejadian.
“Kami di grup relawan ramai membicarakan kejadian ini, termasuk kejadian-kejadian sebelumnya. Karena ini menyangkut kemanusiaan, kami datang ke sini untuk mempertanyakan langsung,” ujarnya.
Namun, setibanya di rumah sakit, para relawan belum mendapatkan penjelasan resmi dari pihak manajemen. Petugas keamanan yang berjaga di lokasi menyampaikan bahwa klarifikasi hanya dapat diberikan oleh pihak humas atau pimpinan rumah sakit.
“Kami tidak bisa mendapatkan jawaban dari security karena mereka tidak berwenang. Kami diminta datang kembali besok pukul 10.00 Wita untuk bertemu pihak rumah sakit,” jelasnya.
Isu dugaan penolakan korban kecelakaan ini disebut bukan kali pertama muncul. Menurut Idi, dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir, relawan kerap menghadapi situasi serupa saat membawa korban laka ke rumah sakit tersebut.
“Kalau untuk korban laka, sudah hampir dua tahun ini kami sering mengalami hal seperti itu. Selama ini kami mengalah, tapi sekarang kami ingin ada kejelasan,” tegasnya.
Selain soal dugaan penolakan, relawan juga menyoroti minimnya bantuan penanganan awal terhadap korban, terutama dalam kondisi darurat. Mereka menilai, meski rumah sakit tidak dapat menangani pasien, setidaknya ada upaya bantuan kemanusiaan seperti penggunaan ambulans untuk merujuk korban ke fasilitas kesehatan lain.
“Kami melihat korban tadi kondisinya sudah sangat parah. Tapi masih diangkut menggunakan mobil pick up terbuka. Kalau memang tidak bisa menangani, setidaknya bantu dalam proses rujukan dengan ambulans,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan kendaraan terbuka untuk evakuasi korban dinilai berisiko tinggi dan tidak sesuai dengan standar penanganan medis, terutama bagi korban dengan luka berat.
Meski demikian, Idi mengakui bahwa informasi yang beredar di media sosial masih simpang siur. Ada pihak yang menyebut kabar penolakan tersebut sebagai hoaks, namun di sisi lain relawan mengaku memiliki pengalaman di lapangan yang berbeda.
“Ada yang bilang itu hoaks, tapi kami di lapangan sering mengalami. Makanya kami ingin mendengar langsung dari pihak rumah sakit agar jelas,” tuturnya.
Terkait kejadian di Kilometer 15, Idi menyebut pihaknya tidak berada langsung di lokasi saat peristiwa terjadi. Namun berdasarkan informasi yang diterima, korban diarahkan untuk dirujuk ke rumah sakit lain.
“Kami tidak di tempat kejadian, tapi dari informasi yang kami terima, seperti biasa diarahkan untuk dirujuk ke rumah sakit lain,” ungkapnya.
Para relawan berharap pertemuan yang dijadwalkan pada Rabu (25/3/2026) pagi dapat memberikan kejelasan terkait prosedur penanganan korban kecelakaan di RS IA Moeis, sekaligus menjawab isu yang berkembang di masyarakat.
Mereka juga menekankan pentingnya sinergi antara relawan dan fasilitas kesehatan dalam penanganan kondisi darurat, khususnya kecelakaan lalu lintas yang membutuhkan respons cepat dan tepat.
“Kami ini di lapangan hanya menjalankan misi kemanusiaan. Harapannya ada kerja sama yang baik, minimal penanganan awal atau bantuan rujukan agar korban bisa tertangani dengan layak,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







