
Samarinda, Kaltimetam.id – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda memberikan klarifikasi terkait informasi yang sempat beredar di media sosial mengenai dugaan aksi teror di kawasan Taman Bebaya. Setelah dilakukan pemantauan dan pengecekan di lapangan, kejadian tersebut dipastikan bukan merupakan aksi kriminal, melainkan aktivitas hiburan berupa permainan menggunakan senjata mainan jenis water gel.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, menegaskan bahwa peristiwa itu berlangsung pada malam hari menjelang sahur, melibatkan dua kelompok pemuda yang saling mengenal, dan bertujuan untuk kegiatan hiburan semata.
“Jadi ini tadi malam kita sudah monitor kejadian tersebut dan telah melakukan langkah-langkah antisipasi. Narasi yang beredar kurang tepat karena dianggap ada teror, padahal setelah dicek itu hanya menggunakan senjata mainan, water gel,” ujarnya.
Menurut Hendri, pemberitaan yang menyebut adanya teror telah menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Padahal, kegiatan tersebut sepenuhnya aman dan tidak melibatkan senjata tajam maupun unsur kekerasan.
“Mereka ini sebenarnya teman-teman semua. Saat waktu sahur, mereka berkumpul dan melakukan aktivitas sahur dengan cara bermain. Itu hanya sarana hobi menggunakan senjata mainan air, bukan senjata tajam atau berbahaya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hendri menegaskan bahwa tidak ada korban maupun risiko yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Penggunaan water gel atau pistol air masih diperbolehkan, asalkan dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak membahayakan orang lain.
“Kalau mainan, seperti pistol air, ya diperbolehkan. Yang penting bukan senjata berbahaya dan tidak menimbulkan korban,” katanya.
Dalam menanggapi isu yang berkembang, Polresta Samarinda telah melakukan langkah koordinasi dengan pihak-pihak yang memposting informasi tersebut di media sosial. Aparat meminta agar konten yang menyesatkan segera diturunkan atau diperbaiki untuk mencegah kepanikan di masyarakat.
“Kami sudah menghubungi akun-akun media sosial yang memposting informasi tersebut, meminta untuk ditake down atau diperbaiki. Alhamdulillah, mereka kooperatif,” ungkap Hendri.
Hendri juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial, terutama terkait isu yang berpotensi menimbulkan keresahan publik.
“Yang menjadi masalah adalah narasinya. Seolah-olah terjadi penyerangan atau teror. Kalau dibiarkan, isu itu bisa berkembang menjadi kepanikan yang tidak perlu,” tambahnya.
Polresta Samarinda memastikan bahwa langkah antisipatif dan klarifikasi ini bertujuan untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan masyarakat, sekaligus mengedukasi publik agar lebih bijak dalam menyikapi informasi di media sosial.
“Kita berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi dan tetap menjaga situasi keamanan serta ketertiban di lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







