Samarinda, Kaltimetam.id – Angka stunting di Kalimantan Timur kembali menjadi sorotan setelah prevalensinya pada 2024 tercatat mencapai 22,2 persen, atau setara dengan 39.137 anak. Persentase tersebut masih berada di atas rata-rata nasional dan menunjukkan bahwa upaya penurunan stunting di provinsi kaya sumber daya itu berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.
Dalam tiga tahun terakhir, penurunan stunting di Kaltim hanya bergerak 0,7 persen, jauh tertinggal dari capaian nasional yang sudah menyentuh penurunan di atas 1 persen. Kondisi ini dinilai sebagai alarm serius bahwa penanganan stunting membutuhkan intervensi yang lebih terukur, terutama pada aspek gizi dan sanitasi.
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menyampaikan bahwa salah satu kendala besar dalam penanganan stunting adalah kurang optimalnya peran tenaga ahli gizi di lapangan. Ia menegaskan bahwa penanganan stunting bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan makanan anak, tetapi merupakan rangkaian intervensi yang berlapis, mulai dari kesehatan remaja putri, kondisi ibu hamil, hingga sanitasi lingkungan tempat anak tumbuh.
“Penanganan stunting itu sangat membutuhkan ahli gizi. Karena stunting bukan hanya soal makanan, tapi banyak faktor lain mulai dari remaja putri, ibu hamil, sampai sanitasi. Sanitasi MCK yang buruk itu ada hubungannya dengan stunting,” ujarnya.
Di tengah upaya pemerintah daerah memperkuat layanan kesehatan dasar, posyandu tetap menjadi garda terdepan dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Namun, menurut Ananda, posyandu masih menghadapi persoalan mendasar: minimnya tenaga kesehatan kompeten, terutama ahli gizi yang memiliki kemampuan melakukan analisis kasus dan pendampingan keluarga berisiko.
Ia menilai posyandu tidak cukup hanya berdiri sebagai fasilitas, tetapi harus berfungsi sebagai pusat intervensi terpadu. Setiap anak harus dipantau secara berkala, terutama pada fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) periode emas yang menentukan perkembangan otak dan kualitas hidup jangka panjang.
“Evaluasi itu penting di 1.000 HPK. Pada masa ini struktur otak dibentuk, dan kalau asupan gizi tidak terpenuhi, dampaknya bisa permanen,” katanya.
Stunting tidak terjadi tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang tidak ditangani sejak dini. Salah satunya adalah tingginya kasus anemia pada remaja putri di Kaltim. Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan mereka saat memasuki masa kehamilan.
Remaja putri yang anemia berpotensi mengalami kehamilan berisiko, melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, hingga memicu stunting sejak dini.
Ananda menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala bagi remaja putri, baik melalui sekolah maupun fasilitas kesehatan. Jika akar persoalan di fase ini tidak diselesaikan, upaya penurunan stunting akan selalu tertahan.
Selain persoalan gizi, buruknya sanitasi lingkungan di sejumlah wilayah Kaltim menjadi faktor signifikan yang memperparah situasi. Masih terdapat warga yang belum memiliki akses air bersih layak, fasilitas MCK memadai, serta perilaku hidup bersih yang konsisten.
Berbagai studi menunjukkan bahwa lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko penyakit infeksi, terutama diare dan cacingan, yang pada akhirnya menghambat penyerapan nutrisi anak.
“Intervensi sensitif seperti sanitasi, air bersih, dan edukasi PHBS tidak boleh lagi jalan lambat. Ini harus diselesaikan bersama,” katanya.
Dengan angka stunting yang relatif stagnan, para pemangku kebijakan mendorong pemerintah provinsi melakukan pemetaan ulang wilayah-wilayah yang menjadi kantong kasus stunting. Pemetaan berbasis data dianggap penting untuk memastikan bahwa intervensi benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan, bukan sekadar memenuhi target program.
Penempatan ahli gizi di tingkat kecamatan dan kelurahan juga menjadi kebutuhan mendesak. Minimnya jumlah tenaga gizi di lapangan menyebabkan banyak kasus tidak tertangani secara detail, terutama pada daerah terpencil atau padat penduduk.
Stunting tidak hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga masa depan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Anak yang mengalami stunting berisiko besar menghadapi hambatan perkembangan kognitif, kapasitas belajar yang rendah, serta produktivitas yang menurun saat dewasa.
Hal ini menjadi tantangan besar bagi Kaltim yang sedang menata diri sebagai penyangga utama pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kualitas SDM menjadi kunci keberhasilan transformasi tersebut.
“Kita ingin generasi emas 2045 itu nyata. Kalau masih berkutat dengan stunting, berarti kita belum maju. Semua pihak harus kerja sama agar anak-anak kita bisa tumbuh sehat dan cerdas,” pungkasnya. (Adv/DPRDKaltim/SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







