Sendawar, Kaltimetam.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menjadikan pembangunan akses jalan menuju tiga kampung tertinggal di Kecamatan Bongan sebagai prioritas pembangunan daerah. Langkah tersebut ditempuh untuk membuka isolasi wilayah sekaligus mempercepat peningkatan status kampung agar dapat mengakses pelayanan dan pembangunan secara lebih optimal.
Bupati Kutai Barat Frederick Edwin mengungkapkan hingga tahun 2026 masih terdapat tiga kampung berstatus tertinggal di Kabupaten Kutai Barat berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM). Ketiga kampung tersebut ialah Kampung Deraya, Kampung Tanjung Soke, dan Kampung Gerunggung yang berada di Kecamatan Bongan.
Sementara itu, Kampung Lemper yang berada dalam satu koridor wilayah telah berhasil meningkat statusnya menjadi kampung berkembang sejak tahun 2025.
“Sebagaimana kita ketahui bersama di wilayah Kabupaten Kutai Barat masih ada kampung dengan status tertinggal. Kampung ini berada di Kecamatan Bongan yang mana antara lain tiga kampung tersebut adalah Kampung Deraya, Kampung Tanjung Soke dan Kampung Gerunggung. Sedangkan Kampung Lemper telah menjadi Kampung Berkembang sejak tahun 2025,” kata Frederick dalam konferensi pers di Kantor Bupati Kutai Barat, Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, jumlah penduduk yang bermukim di empat kampung tersebut mencapai 759 jiwa pada tahun 2025. Seluruhnya bergantung pada satu koridor jalan yang menghubungkan kawasan pedalaman Bongan dengan ruas Trans Kalimantan.
Ruas jalan dari Trans Kalimantan menuju Kilometer 88, Lemper, Deraya, Tanjung Soke hingga Gerunggung memiliki panjang sekitar 45 kilometer. Namun kondisi jalan yang telah beraspal dan beton baru mencapai 10,17 kilometer, sementara sepanjang 34,83 kilometer lainnya masih berupa jalan tanah.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya percepatan pembangunan dan peningkatan status kampung. Sebab, keterbatasan akses turut memengaruhi pelayanan publik, pendidikan, kesehatan hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terus melakukan pembangunan infrastruktur secara bertahap. Sejak 2017 hingga 2025, pemerintah daerah telah merekonstruksi jalan sepanjang 8,25 kilometer serta membangun sejumlah jembatan penghubung pada kawasan tersebut.
Di sisi lain, dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga mulai mengalir melalui rencana rekonstruksi ruas jalan Bongan–Gerunggung yang akan dibiayai APBD Provinsi Kalimantan Timur tahun 2026.
Frederick menegaskan, pembangunan konektivitas merupakan instrumen penting dalam mempercepat transformasi kampung tertinggal menjadi kampung berkembang, maju dan mandiri.
“Penanganan terhadap ruas konektivitas tentunya memberikan dampak yang signifikan karena akan membuka dan memberikan peningkatan akses pelayanan publik lainnya seperti air bersih dan sanitasi, listrik, peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, serta peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan akses jalan tidak hanya diukur dari bertambahnya panjang jalan yang mantap, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman.
“Menjadi harapan kita bersama bahwa 190 kampung di Kabupaten Kutai Barat dapat terus meningkat statusnya menjadi Kampung Berkembang, Maju dan Mandiri,” pungkasnya. (SKO/ADV/DISKOMINFO KUBAR)







